Jual Obat Keras Secara Bebas, Pemilik Empat Apotek Ditangkap

9
Polisi mengamankan dua orang pemilik apotek yang menjual obat keras secara ilegal.
Polisi mengamankan dua orang pemilik apotek yang menjual obat keras secara ilegal.

Jakarta | rakyatmedan.com
Ribuan butir obat keras yang diduga kuat palsu karena tidak dilengkapi surat izin edar dan produksi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), yang ditaksir bernilai miliaran rupiah, disita Kepolisian Industri dan Perdagangan (Indag) Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya.

Jenis obat yang diedarkan yaitu Hexymer, Tramadol HCL, Tramadol kapsul, dan Dexto Metorpham. Sedangkan obat yang berfungsi sebagai penenang di antaranya Trihexyphenidyl 2 mg, Alprazolam 1 mg, Risperidone 2, Xlozapine 25, Zypraz 1 mg, Valdimex Diazepam 5 gram, Actazolam 1mg, Merlopam Lorazepam 2mg, Riklona Clonazepam 2mg, Tramadol, Chlorpromazine, Dextromethorphsn 15mg, dan Hexymer 2mg.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Wahyu Hadiningrat mengatakan, obat-obatan tersebut disita dari dua tersangka yang merupakan pemilik dan distrinutor yakni M (33) dan MS (50) di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Dari hasil penyelidikan, diketahui obat tersebut berasal dari Tangerang dan diedarkan secara bebas di Jabodetabek, bahkan pelaku juga menjualnya melalui sistem online.

“Obat-obatan ini tidak kita temukan di kios-kios sana (Pasar Pramuka). Disana cuma transaksinya,” ujar Wahyu, Kamis (12/1).

Tersangka umumnya menjual dalam partai kecil dalam bentuk kemasan plastik yang menyasar pelanggannya adalah anak remaja di bawah umur dan pengamen. Namun, mereka juga melayani penjualan dalam partai besar. Obat tersebut dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp10 ribu sampai Rp20 ribu paket dengan isi 10 butir pil.

Satu tersangka diketahui memiliki empat apotik yang tersebar di Wilayah Jabodetabek serta melayani penjualan di rumah pribadinya di Tangerang dan Jakarta Barat. Dalam sebulan komplotan ini bisa mendapat keuntungan sampai Rp400 juta. Dari tangan pelaku juga diamankan barang bukti satu buah air shofgun.

“Digunakan pelaku (air shofgun) untuk menakut-nakuti petugas POM yang akan melakukan pemeriksaan,” pungkasnya.

Tersangka dikenakan Pasal 196 Jo Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dan atau pasal 197 junto pasal 106 ayat (1) dan atau pasal 198 Jo pasal 108 Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009. Pelaku juga dikenakan Pasal 62 ayat (1) junto pasal 8 ayat (1) huruf a dan e Udang-undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, serta Pasal 3, 4, 5 UU RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dengan ancaman pidana 5 Tahun pidana dan denda Rp2 miliar. (rm/bc)

portal berita medan
informatif & terpercaya