Kepala Dinas Pendidikan Drs Hasan Basri MM membuka rapat gerakan Indonesia membaca penyusunan rencana aksi daerah pengembangan budaya baca masyarakat Kota Medan di ruang rapat III kantor walikota medan, Rabu (23/8).
Kepala Dinas Pendidikan Drs Hasan Basri MM membuka rapat gerakan Indonesia membaca penyusunan rencana aksi daerah pengembangan budaya baca masyarakat Kota Medan di ruang rapat III kantor walikota medan, Rabu (23/8).

Medan | rakyatmedan.com – Walikota Medan Drs Dzulmi Eldin M.Si diwakili Kepala Dinas Pendidikan Drs Hasan Basri MM membuka rapat gerakan Indonesia membaca penyusunan rencana aksi daerah pengembangan budaya baca masyarakat Kota Medan di ruang rapat III kantor walikota medan, Rabu (23/8)

Pendidikan yang berkualitas menjadi kebutuhan penting di era persaingan global. Para pengambil kebijakan di tingkat pusat pastinya sudah menyadari akan hal tersebut. Untuk menjadikan dunia pendidikan berkualitas, tentu sangat banyak faktor yang berkaitan dan saling mempengaruhi. Salah satu upaya pemerintah menjadikan pendidikan berkualitas adalah melalui meningkatkan budaya literasi (membaca dan menulis).

Hasan Basri selaku Kadis Pendidikan Kota Medan mengatakan, dari 1000 masyarakat Indonesia hanya satu orang yang memiliki niat serius membaca, bahkan literasi Indonesia memiliki peringkat ke 60 dari 61 negara.

“Disinilah peran Keluarga, sekolah dan masyarakat terutama siswa/siswi untuk membangun budaya literasi menciptakan siswa/i yang mampu memahami teks lisan, tulisan, audio maupun gambar/visual,” ujar Hasan Basri.

Kota Medan adalah kota ke-4 yang mendeklarasikan diri sebagai kota literasi. Yang sebelumnya sudah didahului kabupaten/kota seperti Labuhanbatu, Serdang Bedagai, Tebingtinggi dan Binjai.

Hasban Ritonga, Ketua Forum Masyarakat Literasi Sumut mengatakan, dari hasil survey yang dilakukan masih banyak masyarakat yang bisa membaca tapi tidak bisa memahami makna dari yang mereka baca. 97 persen masyarakat Indonesia bisa membaca, 3 persen tidak. Tetapi dari 97 persen masih banyak masyarakat tidak dapat membedakan berita asli atau palsu.

“Program dari kami adalah untuk membangun interaksi dari masyarakat untuk mendukung atau mengapresiasi budaya literasi di Kota Medan”.