Farhan Balatif Hina Presiden dan Kapolri di Medsos, Ini Hukuman Diterimanya

44
Foto: M Farhan Balatif alias Ringgo Abdullah, terdakwa penghina Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnavian melaui akun Facebook saat mengikuti sidang di PN Medan, Selasa (16/1).

Medan | rakyatmedan – M Farhan Balatif alias Ringgo Abdillah terdakwa kasus penghinaan Presiden Jokowi dan Kapolri Jendral Tito Karnavian di Facebook dihukum 18 bulan penjara.

Vonis terhadap Farhan dibacakan oleh majelis hakim yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo dalam persidangan yang digelar di PN Medan, Selasa (16/1).

Majelis hakim menyatakan perbuatan terdakwa melanggar Pasal 45 Ayat (3) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 27 Ayat (3) UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan penjara dipotong selama terdakwa ditahan,” ujar Hakim Wahyu.

Dia juga dikenakan membayar denda sebesar Rp10 juta subsider 1 bulan kurungan. Menyikapi vonis ini, baik terdakwa maupun JPU menyatakan menerima putusan majelis hakim.

Tidak Banding
Sementara usai sidang, penasehat hukum terdakwa Ali Napiah mengatakan, tidak mengajukan banding karena putusan tersebut sudah dinilai ringan.

“Kami terima putusan itu, dan tidak akan mengajukan banding. Lagi pula tidak ada saksi yang bisa meringankan terdakwa. Makanya kita terima putusan
itu,” pungkasnya.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa dengan hukuman selama 2 tahun penjara. Terdakwa dinilai terbukti bersalah melakukan penghinaan terhadap Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Jendral Tito Karnavian melalui akun Facebook nya.

Dalam dakwaan JPU, Raskita J.F Surbakti menyebutkan terdakwa diamankan di kediamannya di Jalan Bono No.58-F, Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Medan, pada 9 Agustus 2017, lalu.‎ Polisi juga menyita sejumlah barangbukti, yang digunakan terdakwa untuk menghina Presiden dan Kapolri berupa dua unit Laptop dan Handphone.

‎Raskita mengatakan dalam penghinaan kepala negara dan kepala institusi kepolisian itu, terdakwa melakukan pengeditan foto (meme) untuk menghina dua pejabat tinggi negara itu.

Terdakwa melakukan tindakan itu karena merasa benci dengan kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak memenuhi rasa keadilan. (rm-06)