Waspadai Teror Susulan, Polda Sumut Jaga Ketat Seluruh Gereja

Anggota Brimob Polri melakukan penjagaan di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Yosep. (foto ant: Irsan Mulyadi)
Anggota Brimob Polri melakukan penjagaan di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Yosep. (foto ant: Irsan Mulyadi)

Waspadai Teror Susulan, Polda Sumut Jaga Ketat Seluruh Gereja

Medan | rakyatmedan.com
Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menginstruksikan seluruh jajaran untuk meningkatkan pengamanan dan pengawasan untuk mengantisipasi adanya aksi bom susulan di tengah masyarakat saat melaksanakan ibadah.

“Seluruh jajaran sampai di tingkat kepolisian sektor diperintahkan untuk melakukan penjagaan di seluruh gereja dan rumah ibadah lainnya,” ujar Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat (Penmas) Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Jumat (2/9) malam.

Nainggolan mengatakan, pengamanan mengantisipasi aksi kelompok radikalisme mulai ditingkatkan. Seluruh intelijen dikerahkan mengawasi setiap rumah ibadah. Selain itu, pengamanan polisi berpakaian seragam juga dilakukan saat ibadah di gereja.

“Kami minta masyarakat, khususnya umat Kristiani untuk tidak keberatan, memaklumi tugas anggota saat berjaga, dan melakukan pemeriksaan atas tas yang dibawa jemaat. Ini bertujuan untuk mencegah adanya aksi susulan bom bunuh diri,” katanya.

Menurutnya, situasi keamanan di tengah masyarakat pascaserangan percobaan bom bunuh diri tersebut, masih tetap terjaga. Polisi masih meningkatkan pengawasan dan patroli di tengah masyarakat. Polisi juga meminta masyarakat untuk aktif.

“Kita minta masyarakat, termasuk jemaat gereja untuk berperan aktif dalam melihat lingkungan dan orang sekitarnya. Jika melihat orang mencurigakan maka sebaiknya dilaporkan segera kepada polisi untuk diamankan,” sebutnya.

Sementara itu, Makmur Hasugian orangtua Ivan Armadi tersangka percobaan bom bunuh diri di Gereja Stasi Santo Yosep Jl Dr Mansur Medan mengharapkan, tidak ada lagi anak di bawah umur yang menjadi korban pencucian otak kelompok radikalisme.

“Kasus anak kami merupakan pelajaran berharga buat kalangan orangtua untuk meningkatkan pengawasan dan perhatian terhadap anak – anaknya yang masih muda. Jangan sampai ada Ivan – Ivan lagi yang menjadi korban pencucian otak yang didoktrin menebar aksi teror,” katanya.

Makmur Hasugian bersama istrinya Arista Boru Purba mengaku masih sangat terpukul atas perbuatan yang dilakukan anaknya tersebut. Apalagi, anaknya itu melakukan percobaan bom bunuh diri di Gereja Stasi Santo Yosep Jl Dr Mansur Medan, 28 Agustus 2016.

“Awalnya, anak saya itu tidak mau memberitahukan orang yang memberikan perintah. Namun, setelah saya mengancam untuk tidak makan dan minum bila dia terus diam kepada penyidik, akhirnya anak kami itu mau mengungkapnya,” kata Arista.

Arista mengharapkan, aparat kepolisian dapat menangkap orang yang memberikan perintah terhadap anaknya untuk melakukan bom bunuh diri tersebut. Sehingga, tidak ada lagi anak di bawah umur yang menjadi korban berikutnya.

“Sebenarnya, Ivan merupakan anak yang baik dan tidak pernah melawan orangtua. Dia tidak pernah ketinggalan untuk salat lima waktu. Makanya, kami sangat terkejut saat mengetahui dirinya melakukan percobaan bom bunuh diri,” ungkapnya.

Mantan terorisme Khairul Gazali mengingatkan aparat kepolisian dan intelijen negara mengantisipasi adanya serangan susulan lebih besar menyusul kegagalan Ivan Armadi Hasugian dalam melakukan percobaan bom bunuh diri di Gereja Stasi Santo Yosep Medan.

“Masih banyak Ivan – Ivan lainnya yang sudah direkrut dan dicuci otaknya untuk dijadikan bom pengantin. Mereka melakukan amaliyat jihad. Tindakan dan perbuatan mereka memalukan agama Islam,” ujar Khairul Gazali.

Gazali mengungkapkan, sel pergerakan jihad sudah lama aktif di Medan. Ini sudah terlihat dari berbagai peristiwa yang pernah mengguncang seperti, Komando Jihad di tahun 1976, pembajakan Garuda Woyla tahun 1981 dan aksi peledakan bom gereja tahun 2000 lalu.

“Selain itu, perampokan Lippo Bank tahun 2003, perampokan Bank Sumut tahun 2009, perampokan Bank CIMB tahun 2010, hingga penyerangan Polsek Hamparan Perak tahun 2010 silam. Yang terakhir ini, percobaan bom bunuh diri di Gereja Stasi Santo Yosep Medan,” katanya.

Menurutnya, anak remaja yang termasuk masih duduk di sekolah umum menjadi target sasaran doktrin kelompok radikalisme itu. Kalangan remaja lebih mudah dicuci otaknya karena masih labil. Ada ratusan orang yang sudah direkrut dan didoktrin untuk melakukan teror.

“Ivan Armadi sebagai salah satu pemuda korban pencucian otak yang berbaiat dengan pemimpin Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Abu Bakar Al Baghdadi. Dalam rekaman video, dia memegang bendera ISIS,” sebutnya.

Sebelumnya, Kepala Polresta Medan, Kombes Pol Mardiaz Khusin Dwihananto memerintahkan seluruh jajarannya di sektor untuk menjaga seluruh gereja yang ada di wilayah hukumnya masing – masing. Polresta Medan juga turut memback up pengamanan itu.

“Kami minta masyarakat tidak usah takut untuk melaksanakan ibadah. Jemaat Gereja Stasi Santo Yosep Jl Dr Mansur Medan, juga diminta tidak takut. Kami tempatkan petugas melakukan pengamanan sebelum ibadah dilaksanakan,” jelasnya.

Menurutnya, pengamanan ekstra ketat di seluruh gereja di Medan oleh aparat kepolisian untuk mencegah adanya aksi teror susulan oleh kelompok orang tidak bertanggungjawab. Masyarakat pun diminta tidak terpancing atas isu maupun provokasi yang bisa mengganggu ketenangan. (rm/sp)

portal berita medan
informatif & terpercaya