Jaringan Sabu Aceh-Malaysia Ditangkap

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting didampingi Kasubdit II Ditres Narkoba Poldasu, AKBP Hilman Wijaya memaparkan barang bukti dan ketiga tersangka.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting didampingi Kasubdit II Ditres Narkoba Poldasu, AKBP Hilman Wijaya memaparkan barang bukti dan ketiga tersangka.

Jaringan Sabu Aceh-Malaysia Ditangkap
Medan | rakyatmedan.com
Subdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut membongkar peredaran sabu-sabu jaringan internasional yang masuk ke Indonesia. Hasilnya, tiga pelaku asal Aceh diciduk usai melakukan penyelidikan kurang lebih selama tiga pekan.

Modus pengungkapan yang dilakukan polisi sama seperti sebelumnya. Yakni, dengan cara undercover buy atau menyamar sebagai pembeli narkoba. Ketiganya adalah M Jamil, Abdul Aziz dan Jalaluddin.

Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Sumut, AKBP Hilman Wijaya menjelaskan, ketiganya dibekuk di seputaran Jalan Ringroad, Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Medan Selayang. Sebelumnya, petugas menyaru sebagai pembeli, telah ketemu dengan tiga tersangka itu di Jalan Medan-Binjai Km 16.

Menurut Hilman, proses penyelidikan untuk deal membeli sabu itu berlangsung alot. Begitupun, pihaknya berhasil sepakat dengan pembeli untuk membeli sabu tersebut.

Menurutnya, ketiga warga Aceh ini disuruh oleh seorang bandar besarnya berinisial P. Kata Hilman, saat ini bandar besar berinisial P itu berada di Malaysia.

“Mereka (tersangka) menerima barang dari orang suruhan si P atau perantaranya. Ketiga tersangka itu dapat komando dari P untuk menemui orang suruhan si P tersebut,” kata Hilman, Selasa (6/9) siang.

Namun, Hilman tak dapat memastikan kalau bandar besar berinisial P itu merupakan jaringan internasional.

“Kemungkinan iya. Karena asumsi saya, kalau barang bukti itu dibungkus dalam goni wang yang dikemas dalam bubuk teh cina. Contohnya, kasus sebelumnya ada ditemukan di Labuhanbatu. Tapi saat ini kami masih melakukan pengembangan,” tambah Hilman.

Hilman menambahkan, ketiga pelaku memiliki peran yang berbeda. Dua diantaranya kurir yang membawa kristal putih itu dari Aceh menuju Kota Medan. Masing-masing M Jamil dan Abdul Azis. Sedangkan seorang lagi, Jalaluddin adalah tim survey yang mengkondisikan lokasi transaksi aman dari endusan polisi.

Lantas darimana ketiganya ini kenal dengan bandar besar itu? “Hasil interogasi penyidik, mereka pernah kerja di Malaysia. Saat di Malaysia itulah, mereka kenall dengan bandar besar tersebut,” tandas Hilman seraya bilang, kalau ketiganya sudah menerima upah dari P senilai Rp16 juta.

“Nanti kalau sudah selesai (beres transaksi), mereka akan dapat upah tambahan lagi,” pungkas perwira dengan dua melati emas di pundaknya ini.

Sementara, tersangka Jalaluddin mengakui, kalau tugasnya menjadi tim survei yang lebih dulu bergerak ke Kota Medan guna mensterilkan tempat transaksi barang haram tersebut. Tapi, Jalaluddin sebut, tidak kenal terhadap M Jamil dan Abdul Aziz.

“Saya enggak tahu, dipanggil dan diajak ke Medan untuk lihat rumah. Masih dikasih ongkos operasional saja. Makan, ongkos mobil dan lainnya,” sebut Jalaluddin.

Lain halnya dengan M Jamil. Bapak anak dua ini mengakui kenal dengan bandar berinisial P tersebut. Bahkan, aku Jamil, P itu kawannya dulu. “Rp16 juta kami diupah. Sudah dikasih cash,” tandas Jamil. (rm-04)

portal berita medan
informatif & terpercaya