Kemenristekdikti: Penduduk Terdidik Hanya 27 Persen

Pelajar Sekolah Dasar (SD).
Pelajar Sekolah Dasar (SD).

Kemenristekdikti: Penduduk Terdidik Hanya 27 Persen

rakyatmedan.com
Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi mencatat penduduk terdidik, baik sekolah dasar dan menengah maupun perguruan tinggi, hanya 27 persen, karena itu pihaknya akan mengupayakan peningkatan akreditasi perguruan tinggi dari C menjadi B atau bahkan A.

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaa (Ditjen Belmawa), Prof Intan Ahmad mengatakan, pihaknya telah menyiapkan berbagai kegiatan kemahasiswaan juga kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan.

“Ada program-program pembimbingan dan pendampingan dari kementerian yang fokus ke masalah tersebut seperti bekerja sama dengan Kopertis untuk perguruan tinggi swasta,” katanya di sela pembukaan Ospek Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Kamis (15/9).

Intan Ahmad mengatakan, akreditasi kampus bisa mudah meningkat jika para dosen serta mahasiswa memahami apa yang dimaksud dengan budaya mutu dalam pendidikan. Karena menurut dia, untuk memperoleh itu tak hanya dosen yang harus memahami budaya mutu, mahasiswa pun perlu berkontribusi.

Selain peningkatan kompetensi akademik, kompetensi sosial, lanjut Intan Ahmad, harus dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan di himpunan, contohnya seperti KKN.

“KKN adalah salah satu cara untuk mengembangkan kompetensi sosial yang tidak mungkin diperoleh jika hanya di dalam kelas,” ujarnya.

Terkait penyerapan tenaga kerja yang berpendidikan di perguruan tinggi yang masih rendah, dirinya mengakui bahwa masih banyak kendala yang dihadapi.

“Angka penyerapan lulusan diploma sekitar 11 persen, memang angka partisipasi kasar masih rendah karena banyak kendala,” katanya.

Menurut dia, angka partisipasi kasar adalah angka yang menunjukan usia sekolah atau mahasiswa dibandingkan dengan usia jumlah penduduk.

“Saat ini, jumlahnya masih sekitar 27 persen, padahal Malaysia saja sudah sekitar 40 persen. kita akan terus berupaya meningkatkan, tidak hanya dengan meningkatkan jumlah mahasiswanya saja, tapi tanpa meningkatkan mutu, tidak seperti itu,” ucapnya.

Ia menilai banyaknya lulusan yang tidak bisa bekerja karena kompetensinya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Intan pun mengimbau perlunya kesadaran dari mahasiswa untuk mengetahui apa yang sedang dibutuhkan dunia kerja.

“Jadi tidak secara pasif mendengarkan apa yang disampaikan dosen, tapi juga berpikir tentang masa depannya sendiri untuk memotivasi dirinya sendiri,” katanya. (rm/ant)

portal berita medan
informatif & terpercaya