Indonesia Lahan Subur Bagi Radikalisme

lustrasi antiradikalisme. (foto ant: Maulana Surya).
lustrasi antiradikalisme. (foto ant: Maulana Surya).

Indonesia Lahan Subur Bagi Radikalisme

rakyatmedan.com

Indonesia dinilai masih menjadi salah satu lahan subur tumbuhnya paham radikalisme. Butuh peran aktif seluruh komponen masyarakat untuk membendung benih tersebut.

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Usman Ismail mengatakan, saat ini paham radikalisme juga menyasar dunia pendidikan. Untuk itu, salah satu cara untuk membendung paham radikalisme bisa lewat keluarga dan ulama.

Keluarga dan ulama adalah basis penting untuk memperkuat antiradikalisme di dunia pendidikan. Itu harus sinergi,” katanya di Jakarta, Sabtu (17/9).

Asep menjelaskan, pemahaman antiradikalisme harus dimulai dari keluarga sehingga anak tidak gampang terpengaruh ajaran-ajaran radikal yang diterimanya dari luar.

Sementara itu, para ulama harus memberikan pengayaan tentang ajaran agama yang benar kepada keluarga-keluarga melalui majelis taklim, remaja masjid, pengajian, khotbah, dan berbagai komunikasi sosial lainnya.

“Ulama harus bisa memberikan pengayaan dalam kapasitasnya sebagai obor masyarakat,” kata dosen tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah ini.

Untuk itu, kata dia, para mubaligh-mubalighah dan ustadz-ustandzah juga harus diberi pegangan antiradikalisme, misal melalui bacaan yang praktis dan mudah dicerna, mengingat mereka pun memiliki tingkat pendidikan berbeda.

“Kalau ustadz dan ustadzahnya kurang bacaan, bagaimana dia menyampaikan ajaran yang benar kepada umat? Dia adalah juru bicara untuk ajaran-ajaran Islam yang benar dan harus disampaikan kepada umat,” katanya.

Menurut dia, majelis taklim merupakan forum yang strategis karena berada di ruang publik dan berhadapan langsung dengan masyarakat yang rentan terhadap pengaruh berbagai paham, termasuk radikalisme.

“Jika wilayah jantung itu dibiarkan kosong maka benteng pertahanannya akan jebol. Karena itu, menurut hemat saya, kita semua harus bersinergi, negara masuk, ormas Islam masuk. Jika tidak, maka ruang kosong itu akan diambil alih oleh kelompok-kelompok radikal karena mereka sangat cepat dan jeli melihat peluang,” katanya. (rm/ant)

portal berita medan
informatif & terpercaya