Kapal Bermuatan Mobil Mewah dari Singapura Diamankan di Batam

Petugas Polair Polda Kepri berjaga-jaga di atas kapal yang membawa 4 mobil impor asal Singapura, di Batam, Minggu (18/9).
Petugas Polair Polda Kepri berjaga-jaga di atas kapal yang membawa 4 mobil impor asal Singapura, di Batam, Minggu (18/9).

Kapal Bermuatan Mobil Mewah dari Singapura Diamankan di Batam

rakyatmedan.com
Tim Patroli Sea Rider KP Bisma 8001 Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri mengamankan sebuah kapal berisi empat mobil mewah yang hendak diselundupkan dari Singapura ke Batam melalui wilayah Sagulung.

Empat mobil mewah tersebut adalah Mini Cooper warna silver dengan rangka WMWR32070TE84119 dan nomor mesin D4190743; Sedan Mercedes Benz warna hitam dengan nomor rangka WDB1714542F148010 dan nomor mesin 27294230487160.

Selanjutnya Honda Odyssey abu-abu dengan nomor rangka JHMRB18507C200403 dan nomor mesin K24A64000403; serta Honda Civic sedan nomor rangka JHMFD16306S211765 dan nomor mesin R18A11039244.

“Awalnya ada informasi soal kapal diduga membawa barang ilegal menuju Batam. Selanjutnya tim Sea Rider KP Bisma 8001 melakukan patroli dan melihat kapal dimaksud,” kata Kepala Polda Kepulauan Riau Brigadir Jenderal Sam Budigusdian di Pelabuhan Batuampar, Batam, Minggu (18/9).

Keempat mobil yang dibawa dari Singapura menuju Batam dengn KM Sea Master Three GT 32 akan diselundupkan ke Batam melalui sebuah pelabuhan tidak resmi di Sagulung, Batam.

“Setelah dipastikan kapal itu, langsung diamankan oleh petugas bersama nakhoda yang membawa kapal tersebut, ZK bin M Yusuf,” ujarnya.

Saat diperiksa, kata Sam, ZK tidak bisa menunjukkan surat perintah pelayaran dan tidak ada dokumen atas mobil bekas dari Singaapura yang dibawa tersebut.

“Kapal dibawa ke Batuampar untuk pemeriksaan lebih lanjut. ZK mengaku untuk setiap unit mobil tersebut diberikan upah Rp5 juta,” kata Sam.

Hingga saat ini, lanjut Sam, belum diketahui pemilik dari mobil-mobil mewah tersebut. Kepada pelaku dikenakana Pasal 219 ayat 1 juncto Pasal 232 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17/2008 tentang Pelayaran dengan ancaman pidana paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp600 juta.

Pelaku juga dikenakan Pasal 102 huruf a UU 17/2006 tentang Perubahan atas UU 10/1995 tentang Kepabeanan dengan ancaman pencara maksimal 10 tahun dan denda Rp50 juta hingga Rp5 miliar.

“Kami masih terus terus mendalami kasus ini dengan mengejar pelaku lainnya,” kata Sam. (rm/ant)

portal berita medan
informatif & terpercaya