Tolak Memijat, Murtiah Tewas Dikeroyok Penghuni Panti Sosial Cipayung

Murtiah (30), penghuni Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, tewas dikeroyok lima orang sesama penghuni panti tersebut. Jenazah Murtiah diotopsi di RS Polri atas permintaan keluarga. Senin (19/9). (foto: Kompas: Robertus Belarminus)
Murtiah (30), penghuni Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, tewas dikeroyok lima orang sesama penghuni panti tersebut. Jenazah Murtiah diotopsi di RS Polri atas permintaan keluarga. Senin (19/9). (foto: Kompas: Robertus Belarminus)

Tolak Memijat, Murtiah Tewas Dikeroyok Penghuni Panti Sosial Cipayung

Jakarta | rakyatmedan.com
Seorang perempuan tewas akibat dugaan pengeroyokan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (19/9). Pengeroyokan diduga lantaran korban menolak memijat warga panti lainnya.

Kapolsek Cipayung Kompol Dedi Wahyudi membenarkan peristiwa tersebut, dan menyatakan laporan kasus tersebut masuk di Polsek Metro Cipayung pada pukul 15.30 WIB.

“Iya benar laporannya masuk perihal penemuan korban dalam kondisi meninggal dunia di dalam area panti,” tutur Dedi saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (20/9).

Perempuan 30 tahun dan tuna karya itu bernama Murtiah. Dia beralamat di Pondok Ranggon, RT 12 RW 06 Nomor 65, Cipayung, Jakarta Timur.

Menurut Dedi, pengeroyokan bermula saat penjaga kamar, Meida dan Ayu, akan memberikan makan ke ruang Murtiah sekitar pukul 07.00 WIB.

“Saksi mengecek akan memberikan makan ke ruangan korban, Murtiah,” kata dia.

Saat itu, Meida dan Ayu melihat Murtiah yang merupakan warga binaan di panti, berada dalam posisi duduk dengan wajah tertutup celana panjang. Saat celana disingkap, keduanya terkejut.

“Ternyata korban terlihat sudah dalam kondisi meninggal dunia dan mengalami luka-luka, serta wajah mengeluarkan darah,” ungkap Dedi.

Dalam kasus tersebut, polisi menangkap lima orang yang diduga pengeroyok Murtiah. Mereka tidak lain adalah penghuni panti. “H, DS, AP, K, dan N,” ujar Dedi.

Kelima warga panti tersebut kini sudah ditahan di Mapolsek Metro Cipayung. Sementara, kasus tersebut masih dalam penyelidikan.

Pentolan Geng ‘Bertato’
Sementara, pihak keluarga juga menyatakan sama. Murtiah diduga tewas usai dikeroyok lima penghuni panti, karena menolak ketika disuruh memijat.

Adik kandung Mutiah, Ahmad Firdaus mengatakan, pengeroyokan bermula karena seorang pengeroyok tidak terima dengan penolakan Mutiah. Lantas, dia memanggil empat pengeroyok lainnya.

“Awalnya nyuruh kakak saya pijitin dia (pelaku). Tapi kakak saya kebetulan enggak mau. Lalu si pelaku manggil temannya buat mukulin kakak saya,” kata Ahmad di Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Murtiah ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa sekitar pukul 07.00 WIB. Sementara dugaan pengeroyokan terjadi sekitar empat atau lima jam sebelum jenazah ditemukan.

“Kejadiannya diduga dini hari, antara pukul 03.00 WIB sampai 04.00 WIB,” kata pria 28 tahun itu.

Ahmad mengatakan, pihak keluarga mengetahui kabar duka itu dari pihak Panti Sosial Cipayung itu. “Infonya tatoan (pelaku utama). Seperti orang pemakai narkoba. Kepala geng yang nyuruh mukulin kayak lagi hamil. Tinggi lebih gede dari saya. Pihak panti yang jelasin ke saya,” Ahmad memungkas. (rm/l6)

portal berita medan
informatif & terpercaya