Dalang Kerusuhan Tapsel Masih Misterius

Hasan Basri Ritonga diperiksa penyidik Polres Tapsel.
Hasan Basri Ritonga diperiksa penyidik Polres Tapsel.

Dalang Kerusuhan Tapsel Masih Misterius
Medan | rakyatmedan.com
Polda Sumut terkesan menutupi pelaku penebar kebencian yang mengakibatkan terjadinya konflik berbau Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) di Tapanuli Selatan (Tapsel) beberapa waktu lalu.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, meskipun pasukan TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) 212 Padang Sidempuan berhasil mengamankan Hasan Basri Ritonga (62), warga Jalan Tano Bato Gang Sawo Lingkungan I, Kelurahan Batang Ayumi Jae, Padang Sidempuan bersama rekannya, Rispan Nasution (32), warga Jalan Tano Bato, Gang Masjid, Lingkungan I, Kelurahan Batang Ayumi Jae, dari kediamannya karena diduga menjadi penyebar selebaran ke sejumlah warung di Tapsel, namun kini polisi telah memberlakukan wajib lapor kepada keduanya.

“Sesuai dengan hasil penyelidikan, maka kedua orang itu (HBS dan RN) hanya diberikan wajib lapor saja. Sedangkan, pelaku lainnya (provokator) yang menjadi aktor utama terjadinya kerusuhan itu belum diketahui identitasnya (misterius),” kata Rina saat dikonfirmasi via seluler oleh wartawan, Senin (29/9).

Begitu juga dengan pembajak akun facebook (FB) milik Toni Darius Sitorus (TDS), hingga kini belum berhasil diidentifikasi, meskipun tim ahli Cyber Crime Polda Sumut telah diturunkan untuk mengejar pelaku. “Belum ada perkembangan soal itu,” ungkap Rina.

Bahkan, mantan Kapolresta Binjai ini juga membantah Polda Sumut sengaja memelihara dan berusaha menutupi proses penyelidikan yang dilakukannya karena takut jadi sasaran amuk massa.

“Tidak benar itu, kita (Polisi) sudah sangat terbuka terkait dengan proses penyelidikan kasus itu. Tidak ada yang ditutupi dan tidak ada yang dipelihara,” ujarnya.

Sebab, jika ada yang sengaja memainkan atau bermain-main dengan api, maka orang tersebut dapat dikatakan bunuh diri.  “Tidak mungkin itu, jika ada berarti dia mau bunuh diri,” terangnya.

Sementara, dari informasi yang dapat dikumpulkan wartawan menyebutkan, pelaku yang membajak akun facebook milik TDS sudah berhasil diamankan polisi.

Namun, polisi berusaha menutupinya dengan berbagai alasan agar tidak menjadi sasaran tembak. Sebab, dari hasil penyelidikan TDS yang sebelumnya dituding sebagai pemicu terjadinya aksi kerusuhan yang berbau SARA itu terungkap, telepone genggam (HP) jenis layar sentuh miliknya telah dijual kepada pihak lain.  Di mana telepon tersebut selama ini kerap digunakan TDS untuk membuka akun FB miliknya.

Namun, saat HP tersebut dijual, TDS lupa mengakhisi (log out) akun FB-nya. Sehingga, pelaku dengan mudah masuk ke system dan mengubah status FB TDS.

“Membajak FB itu tidak harus melalui HP milik TDS dari Jakarta atau bahkan orang yang tidak mengenal TDS pun banyak yang bisa membajak. Kesimpulannya, kasus ini masih dalam penyelidikan,” tambah Rina.

Jangan Bermain Api
Terpisah, anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan mewanti-wanti kepada Polda Sumut agar tidak bermain-main dengan api jika tidak ingin terbakar.

“Jangan bermain dengan api jika tidak ingin terbakar, jangan menutupi kasus itu jika tidak ingin disalahkan,” kata Sutrisno.

Apalagi, sambung politisi PDI Perjuangan ini, ada upaya untuk mencari tumbal di balik kerusuhan itu. Sebab, HBS dan RN diyakini bukanlah orang yang paling bertanggungjawab atau aktor utama di balik kerusuhan itu.

“Sudah begini, janganlah mencari kambing hitam. Kasihan bapak itu (HBS dan RN) sudah tua dan mereka tidak faham teknologi,” ujarnya.

Seharusnya, kata anggota Komisi C DPRD Sumut ini, polisi mau dan bersedia secara terbuka mengumumkan kepada Publik siapa dalang dari kerusuhan itu. Sehingga tidak ada pertanyaan dan warga sekitar merasa puas sehingga kedepan tidak akan mudah untuk terpancing.

“Pasti ada orang yang sengaja menyebarkan print out dari status FB TDS. Orang itu yang harus dicari, siapa yang menyebarkan itu? Jika sampai sekarang Polisi belum mengetahuinya berarti ada indikasi lain di balik kerusuhan itu,” terangnya.

Sebelumnya, seorang pelaku yang diduga telah menyebarkan selebaran ke sejumlah warung di Tapsel bernama Hasan Basri Ritonga (62) dan Rispan Nasution (32), dijemput pasukan TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) 212 Padang Sidempuan, pada Kamis (22/9) lalu dari rumahnya.

Keduanya diamankan pasukan TNI karena menyebar luaskan selebaran akun facebook Toni Darius Sitorus (TDS) yang berisi hinaan terhadap agama Islam ke beberapa warung yang ada di Kota Padangsidempuan. Selebaran tersebut digandakan menjadi 90 eksemplar.

Sehingga, sejumlah warga Desa Sihepeng Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan warga Desa Aek Badak Julu, Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapsel tiba-tiba menyerang warga Desa Huta Pardomuan, Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapsel. Akibatnya, empat warga Desa Aek Badak Julu mengalami luka-luka akibat tembakan senapan angin dan empat rumah warga Desa Huta Pardomuan rusak parah. (rm-05)

portal berita medan
informatif & terpercaya