Kurikulum Pengaruhi Daya Saing

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Kurikulum Pengaruhi Daya Saing
Bekasi | rakyatmedan.com
Tolok ukur daya saing suatu bangsa salah satunya dilihat dari angka serapan tenaga kerja. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Stastistik, jumlah sarjana menganggur di Tanah Air cenderung mengalami peningkatan dari 5,34 persen pada Februari 2015 naik menjadi 6,22 persen pada 2016.

Menurut Direktur Pemagangan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bagus Maryanto, hal itu turut dipengaruhi oleh kurikulum pendidikan tinggi yang belum benar-benar mengacu pada kebutuhan industri. Alhasil, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang gagal bersaing di pasar kerja.

“Ambil contoh pertanian. Kalau dulu negara kita memiliki kekuatan di bidang agraria, sekarang 31,74 persen sarjana pertanian kita menganggur,” ujarnya saat membuka Seminar Nasional Bertema Kemitraan Pemerintah Lokal, Dunia Usaha, dan Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Investasi dan Mengatasi Pengangguran di Institut STIAMI, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (9/10).

Kondisi demikian, ungkap Bagus, selain karena pekerjaan di bidang pertanian dianggap tidak lagi menjanjikan juga secara umum telah terjadi pergeseran minat para pekerja ke sektor formal dan informal. Kaum muda lebih banyak memilih jurusan yang berpotensi menunjang karier di wilayah perkotaan.

Ia pun menekankan pentingnya kebijakan baru pemerintah, khususnya yang dibuat oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi agar dapat menyinkronkan antara kurikulum dengan kebutuhan industri. Sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

“Bukan hanya pemerintah, perguruan tinggi juga harus membangun jaringan dengan industri supaya lulusannya bisa langsung terserap dunia kerja,” tandasnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Rektor Institut STIAMI Panji Hendarso sepakat bahwa kerja sama dengan pihak industri sangat diperlukan. Hal itu bisa dimulai melalui program kerja lapangan yang diwajibkan bagi mahasiswa tingkat akhir di semua jurusan.

“Ekspektasi kami, mahasiswa setelah lulus orientasinya bukan sekadar mencari pekerjaan tetapi menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi pendidikan entrepreneur juga perlu dikembangkan,” ucapnya.

Di samping itu, tutur Panji, langkah-langkah menyiapkan lulusan yang andal hingga sanggup bersaing di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bisa diawali dengan menyediakan tenaga pendidik yang mumpuni. Idealnya, selain dosen dari kalangan akademisi juga ada dosen praktisi.

“Perbandingannya minimal 60 persen dosen akademisi dan 40 persen praktisi. Mahasiswa memang perlu bertemu dan diajarkan langsung oleh mereka-mereka yang berpengalaman di bidangnya,” tukas dia.

Lebih lanjut, imbuhnya, pemerintah daerah (Pemda) seyogianya ikut mengambil peran dalam mendukung upaya pemerintah pusat dan juga perguruan tinggi. Semisal, memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi sarjana dan diploma mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Dengan kata lain, pemda sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat yang mestinya menyediakan lapangan pekerjaan. Sementara perguruan tinggi fokus bagaimana mencetak outcome SDM yang dibutuhkan,” pungkasnya. (rm/miol)

portal berita medan
informatif & terpercaya