12 Perusahaan Divonis Bersalah Melakukan Kartel Ayam

Ilustrasi.
Ilustrasi.

12 Perusahaan Divonis Bersalah Melakukan Kartel Ayam

Jakarta | rakyatmedan.com
Sebanyak 12 perusahaan pembibitan ayam terbukti melakukan praktik kartel karena telah bersepakat dalam menentukan jumlah ayam jenis pedaging atau indukan (parent stok/PS) yang diafkir dini (dimusnahkan). Karena itu, 11 dari 12 perusahaan itu dikenakan denda mencapai Rp119,7 miliar yang harus dibayarkan ke kas negara.

Ketua Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kamser Lumbanradja mengatakan, seluruh perusahaan pembibitan ayam tersebut telah terbukti melanggar pasal 11 UU No 5/1999 terkait pengaturan produksi bibit ayam pedaging (broiler) di Indonesia.

Pasalnya, telah terjadi pertemuan dan kesepakatan yang dilakukan kedua belas perusahaan itu pada 14 September dan 21 September 2015 untuk menentukan jumlah ayam yang diafkir dini oleh masing-masing perusahaan.

Adapun kedua belas perusahaan tersebut, antara lain PT Charoen Pokphan Indonesia, Tbk (CPI), PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk, PT Malindo Feedmill, Tbk, PT CJ-PIA, PT Taat Indah Bersinar, PT Cibadak Indah Sari Farm, PT Hybro Indonesia, PT Expravet Nasuba, PT Wonokoyo Jaya Corporindo, CV Missouri, PT Reza Perkasa, dan PT Satwa Borneo Jaya. Namun, PT Expravet Nasuba tidak dikenakan denda karena telah melakukan afkir dini sebagai langkah korporasi sebelum terjadi pertemuan.

“Berdasarkan porsi PS yang diafkir dini dan keuntungan yang didapat, maka PT Charoen Pokhpand Indonesia Tbk dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk ditetapkan harus membayar denda maksimal sesuai UU 5/1999, yakni Rp25 miliar untuk masing-masing perusahaan,” papar Kamser saat pembacaan putusan di kantor KPPU, Jakarta, Kamis (13/10).

Ketua KPPU M Syarkawi Rauf mengatakan tindakan keduabelas perusahaan itu, kata dia, telah membuat peternak mandiri merugi. Sebelum ada afkir dini PS, harga bibit ayam (DOC) hanya Rp4.200 per ekor. Namun, setelah afkir dilakukan sebanyak 2 juta ekor DOC pada tahap I Desember 2015, harga DOC langsung melambung menjadi di atas Rp6.000 per ekor.

“Tapi anehnya, kok setelah harga DOC naik, harga ayam hidup di peternak mandiri hanya Rp10 ribu-Rp15 ribu per ekor dan di konsumen jadi Rp40 ribu-Rp45 ribu per ekor. Mestinya hanya Rp20 ribu-Rp27 ribu per ekor,” pungkas Syarkawi. (rm/mtc)

portal berita medan
informatif & terpercaya