Antonio Guterres, Sekjen PBB Terbaru

Antonio Guterres.
Antonio Guterres.

Antonio Guterres, Sekjen PBB Terbaru
New York | rakyatmedan.com
Mantan Perdana Menteri Portugal Antonio Guterres telah resmi ditunjuk sebagai Sekjen PBB berikutnya. Dia akan menjadi diplomat top dunia pada 1 Januari ketika masa jabatan lima tahun kedua Ban Ki-moon berakhir.

Guterres (67), yang memimpin UNHCR, badan pengungsi PBB, selama 10 tahun, dipilih di antara 13 kandidat pekan lalu. Dia mengatakan kepada BBC bahwa mengakhiri perang saudara di Suriah akan menjadi tantangan terbesar.

“Saya percaya prioritas pertama masyarakat internasional adalah mengakhiri konflik Suriah dan menggunakan momentum yang diciptakan oleh konflik itu untuk mencoba mengatasi semua konflik lain yang saling terkait,” katanya kepada kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet, Jumat (14/10).

Dia mengatakan, dunia sedang menghadapi waktu yang rawan dan ia ingin melihat orang-orang di seluruh dunia bekerja sama untuk mencapai masa depan yang lebih aman.

“Saya berharap orang akan memahami bahwa lebih baik mengesampingkan beda pendapat, kepentingan yang berbeda, dan memahami bahwa itu biasa, sebagai kepentingan vital untuk mengakhiri konflik ini. Karena itu harus benar-benar diketengahkan jika Anda ingin hidup di dunia di mana perlindungan minimal ditetapkan, di mana orang dapat hidup normal,” ucapnya.

Guterres, yang dididik sebagai seorang insinyur, masuk politik pada 1976 dalam pemilihan demokratis pertama Portugal setelah “Revolusi Bunga” yang mengakhiri lima dekade kediktatoran.

Sebagai kepala badan pengungsi UNHCR 2005-2015, ia memimpin badan itu melewati beberapa krisis pengungsi terburuk di dunia, termasuk di Suriah, Afghanistan, dan Irak.

Selama kurun waktu itu, dia berulang kali mengimbau negara-negara Barat untuk berbuat lebih banyak guna membantu pengungsi yang melarikan diri dari konflik.

Nominasi Guterres muncul kendati ada upaya terpadu untuk menunjuk Sekjen perempuan pertama PBB. Dari 13 calon, tujuh orang perempuan, di antaranya Direktur Jenderal Unesco Irina Bokova dari Bulgaria, dan Helen Clark, 66, mantan perdana menteri Selandia Baru dan saat ini kepala program pembangunan PBB.

Guterres mengatakan kepada sidang umum: “Masalah dramatis dunia yang kompleks saat ini hanya dapat mengilhami sebuah pendekatan rendah hati. Satu di antaranya, sekretaris jenderal sendiri tidak memiliki semua jawaban, atau tidak berusaha untuk memaksakan pandangannya.

“Satu di antaranya, di mana sekjen menyediakan layanan yang baik, bekerja sebagai penyidang, mediator, seorang pembangun jembatan dan perantara yang jujur demi membantu menemukan solusi yang menguntungkan semua pihak yang terlibat,” tutur Guterres.

Ban mengatakan kepada majelis bahwa penggantinya itu terkenal di kalangan diplomatik sebagai seseorang yang penuh belas kasih.

“Dia mungkin paling dikenal di bagian yang terpenting–di garis depan konflik bersenjata dan penderitaan kemanusiaan,” kata Ban.

“Naluri politiknya adalah mereka dari PBB — bekerjasama untuk kebaikan bersama dan tanggung jawab bersama untuk manusia dan planet ini,” pungkas Ban. (rm/bbc)

portal berita medan
informatif & terpercaya