Pemprovsu Lepas Operasi Pasar, Kapolda Siap Tindak Tegas Spekulan

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Erry Nuradi beserta Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel melepas operasi pasar dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga bahan pangan.
Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Erry Nuradi beserta Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel melepas operasi pasar dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga bahan pangan.

Pemprovsu Lepas Operasi Pasar, Kapolda Siap Tindak Tegas Spekulan

Medan | rakyatmedan.com
Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Erry Nuradi beserta Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel melepas operasi pasar dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga bahan pangan.

Rycko mengatakan, pihaknya akan menindak tegas aksi spekulan yang melakukan penimbunan bahan pangan demi mendapat keuntungan berlipat.

Operasi Pasar digelar oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Utara (Sumut) yang melibatkan Pemerintah Provinsi Sumut, Bank Indonesia dan Bulog. Disamping anggota TPID Sumut, operasi pasar juga melibatkan PD Pasar Kota Medan.

“Hari ini (kemarin) kita kembali melakukan operasi pasar, melibatkan Pemprov Sumut, Bulog dan  Bank Indonesia karena harga beberapa komoditi yang meningkat seperti cabe merah,” kata Erry.

Dia menambahkan, pihaknya berharap menjelang Natal dan Tahun Baru, harga komoditi bisa lebih stabil agar laju inflasi Sumut tidak terlalu tinggi.

“Saya berharap pedagang besar dan menengah tidak melakukan spekulasi seperti aksi penimbunan barang yang termasuk pelanggaran hukum, karena membuat harga bisa naik,” katanya.

Sementara itu, Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko mengimbau para pedagang tidak melakukan tindakan spekulasi termasuk di antaranya penimbunan bahan pangan.

“Kami akan tindak tegas, saya akan turunkan operasi khusus tangani penimbunan,” tegasnya.

Penimbunan sebutnya merupakan pelanggaran Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan. Kapolda kembali mengatakan pihaknya akan menurunkan tim khusus untuk memantau rantai distibusi sejak di tingkat produksi sampai ke pasar.

Sementara, Plt Kepala Biro Perekonomian Setda Provsu Elidawati mengatakan, operasi pasar dilakukan sejak Minggu kedua bulan ini untuk mengantisipasi kenaikan inflasi bulan Oktober.

Dalam operasi pasar kali ini, TPID Sumut menjual komoditi beras, gula, cabai dan bawang merah. Kenaikan harga cabai merah menjadi faktor penyumbang inflasi tertinggi mencapai 1,1 persen di Sibolga dan 1,65 persen di Kota Medan pada bulan September.

Di pasar tradisional, harga cabai merah berkisar Rp72 ribu-Rp75 ribu perkilogram, pada operasi pasar dijual seharga Rp50 ribu. Bawang merah pada operasi di jual dengan harga Rp23 ribu perkilogram.

Hal yang menggembirakan komoditi kentang yang sempat menjadi penyumbang inflasi mengalami penurunan harga. Pekan lalu, perkilogram kentang mencapai Rp14 ribu, saat ini harganya Rp10 ribu perkilogram.

“Karena kentang harganya sudah turun, jadi kita tidak memasukkannya dalam komoditi operasi pasar kali ini,” kata Elidawati.

Kenaikan harga cabai, menurut Elida, disebabkan berkurangnya pasokan cabai merah akibat menurunnya produktivitas sentra cabai merah di Sumut karena penyakit. Hal itu diperburuk dengan mengalirnya produksi cabai Sumut ke luar daerah seperti ke Provinsi Riau dan panjangnya mata rantai distribusi cabai.

Pada Minggu (16/10) kemarin, TPID dan Polda Sumut memantau tataniaga cabai merah di Kabanjahe, Kabupaten Karo. Berdasarkan pantauan tersebut, tim menemukan setidaknya ada 7 mata rantai jalur distribusi cabai merah mulai dari petani hingga ke tangan konsumen.

“Berdasarkan pantauan kami, harga cabai ditentukan oleh pedagang di Kota Medan, sedangkan petani hanya bisa menerima saja. Kita akan mendorong Pemerintah Kabupaten/kota terlibat dalam pengaturan tataniaga komoditas strategis seperti cabai ini,” kata Elidawati. (rm-04)

portal berita medan
informatif & terpercaya