Staf Magister Manajemen USU Dituntut 9,5 Tahun Penjara

Terdakwa Binca Wardani Lubis saat menghadapi sidang tuntutan.
Terdakwa Binca Wardani Lubis saat menghadapi sidang tuntutan.

 

Staf Magister Manajemen USU Dituntut 9,5 Tahun Penjara

Medan | rakyatmedan.com
Staf Program Magister Manajemen (MM) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Binca Wardani Lubis, dituntut sembilan tahun enam bulan penjara. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menilai Binca terbukti mengorupsi uang kuliah mahasiswa sebesar Rp6 miliar.

“Meminta kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa selama sembilan tahun enam bulan penjara, denda Rp200 Juta, subsider enam bulan kurungan,” ucap ketua JPU Djaniko MH Girsang, di Kejati Sumut, Senin (17/10).

Binca juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp6 miliar dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan maka harta bendanya dilelang. Jika tak mencukupi, maka diganti dengan pidana kurungan selama 5 tahun.

Selain Binca, Desi Nurul Fitri juga mendapatkan tuntutan penjara selama 8,5 tahun dengan denda Rp200 juta subsider 6 bulan tanpa uang pengganti.

“Kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana yang diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana,” kata Djaniko.

Dalam kasus ini, kedua terdakwa telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan mengorupsi dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan Dana Kelengkapan Akademik (DKA) mahasiswa pascasarjana. Perbuatan itu dilakukan kedua terdakwa secara berlanjut dan terus-menerus dari tahun 2009 hingga 2014, dan menyebabkan negara rugi sekitar Rp6,9 miliar.

Pembayaran SPP dan DKA seharusnya dilakukan langsung oleh mahasiswa ke bank. Namun kedua terdakwa justru menyuruh mahasiswa membayar ke bagian tata usaha magister manajemen, baik melalui keduanya maupun staf lainnya.

Untuk meyakinkan para mahasiswa, terdakwa membuat bukti penyetoran berupa kuitansi. Selanjutnya dana disimpan di brankas Prodi Manajemen Magister USU dan sebagian lagi disetorkan ke bank mitra USU.

Kuitansi itulah yang digunakan para mahasiswa untuk melakukan kegiatan perkuliahan. Untuk menutupi perbuatannya, kedua terdakwa juga menggandakan/memalsukan kuitansi bukti pembayaran SPP dan DKA tersebut. Dengan begitu, mahasiswa yang menggunakan kwitansi itu seolah-olah telah melakukan pembayaran secara resmi ke bank-bank mitra USU.

Alhasil, realisasi penerimaan SPP mengalami defisit dari tahun ke tahun. Dari hasil audit yang dilakukan tim internal USU, jumlah uang kuliah dan DKA yang diduga diselewengkan berjumlah Rp6,9 miliar. Padahal seharusnya yang disetorkan Rp14,5 miliar. Namun setelah diaudit, terdakwa hanya menyetorkan Rp7 miliar. (rm-04)

portal berita medan
informatif & terpercaya