Industri Pulp dan Kertas Nasional Butuh Harga Gas yang Kompetitif

Harga gas industri yang tinggi, sampai serbuan produk kertas impor dinilai mengganggu bisnis 64 perusahaan anggota APKI. (foto ant: FB Anggoro)
Harga gas industri yang tinggi, sampai serbuan produk kertas impor dinilai mengganggu bisnis 64 perusahaan anggota APKI. (foto ant: FB Anggoro)

Industri Pulp dan Kertas Nasional Butuh Harga Gas yang Kompetitif

Jakarta | rakyatmedan.com
Industri pulp dan kertas nasional memiliki potensi pertumbuhan yang cukup signifikan dan perlu mendapatkan harga gas industri yang kompetitif.

“Kami telah mengusulkan industri pulp dan kertas untuk dimasukkan dalam kelompok bidang industri pengguna gas harga tertentu pada revisi Perpres No. 40/2016 tentang penetapan harga gas bumi,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto pada acara Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) 2016 di Jakarta, Rabu (19/10).

Peluang pengembangan industri pulp dan kertas di dalam negeri, menurut Airlangga, cukup terbuka karena didukung dengan ketersediaan sumber bahan baku kayu dari hutan tanaman industri dan hutan rakyat serta bahan baku non kayu seperti tandan kosong kelapa sawit, kenaf, dan abaca.

“Iklim tropis di negara kita memungkinkan tanaman dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan di daerah sub tropis. Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan industri pulp dan kertas nasional mengalami pasang surut sehubungan dengan tantangan yang dihadapi baik dari dalam maupun luar negeri,” papar dia.

Pertumbuhan sektor ini, lanjut Airlangga, mengalami penurunan sekitar 2,89% pada 2012 dan 0,53% pada 2013. Sedangkan 2014, industri kertas mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,58%.

“Tahun lalu, pertumbuhannya kembali turun sekitar 0,11%. Namun, pada semester I tahun ini, mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,94%. Sebagai salah satu industri prioritas yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No.14/2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional, kami terus mendorong industri pulp dan kertas nasional dapat tumbuh lebih baik lagi,” tutur Airlangga.

Sedangkan Ketua APKI, Misbahul Huda mengatakan, saat ini jumlah anggota APKI telah mencapai 64 industri, di mana 9 industri diantaranya terintegrasi dengan pulp. Namun sepanjang 2011 hingga 2016 jumlah industri kertas terus mengalami penurunan, meskipun ada juga pembangunan pabrik pulp dan rayon yang sedang berlangsung.

“Sebagian besar pabrik yang tutup disebabkan semakin meningkatnya biaya produksi yang tinggi dan harga jual kertas yang cenderung stagnan serta adanya tekanan dari produk impor yang jumlahnya terus meningkat,” ujarnya.

Misbahul menambahkan, sebagai asosiasi, pihaknya mampu menjadi mitra‎ dialog bagi pemerintah seperti dalam kebijakan penurunan harga gas, SNI kemasan pangan, SVLK, kebijakan ekspor impor, kebijakan impor kertas daur ulang dan beberapa kebijakan lain.

“Dengan keunggulan komparatif dari segi ketersediaan bahan baku dan iklim tropis, kami yakin industri pulp dan kertas dapat tumbuh positif dengan dukungan dari para stakeholder,” tutur Misbahul. (rm/imq)

portal berita medan
informatif & terpercaya