Filipina Pisah dari Amerika Serikat

Presiden Filipina Rodrigo Duterte umumkan pisah dari Amerika Serikat (Foto: AFP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte umumkan pisah dari Amerika Serikat (Foto: AFP)

Filipina Pisah dari Amerika Serikat
Beijing | rakyatmedan.com
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan bahwa ini saatnya bagi negaranya berpisah dengan Amerika Serikat (AS).

Pengumuman itu diutarakan oleh Duterte saat melakukan kunjungan kenegaraan di Tiongkok. Ucapan tersebut menjadi peringatan atas persekutuan AS dan Filipina yang sudah berlangsung sejak lama.

“Kepada kalian semua saya umumkan pisah dari Amerika Serikat,” ujar Duterte, Jumat (21/10).

“Perpisahan hubungan itu termasuk di militer dan juga ekonomi, tetapi belum tentu dalam bidang sosial. Amerika sudah kalah,” lanjut Duterte, di hadapan Balai Rakyat Tiongkok.

“Saya sudah menjajarkan diri dengan alur ideologi anda (Tiongkok) dan mungkin saya akan pergi ke Rusia serta berbicara dengan (Presiden vladimir) Putin. Kepadanya saya akan katakan, ‘bertiga kita melawan dunia, Tiongkok, Filipina dan Rusia’. Hanya itu caranya,” tegas presiden yang kerap melontarkan ucapan kontroversial ini.

Sebelumnya pada Rabu 19 Oktober Duterte menyebutkan, ‘waktunya mengucapkan selamat tinggal’ kepada Amerika Serikat. Ini menunjukkan sumpah Duterte untuk bersekutu bersama Negeri Tirai Bambu.

Sementara dalam pidatonya, Duterte lagi-lagi melontarkan hinaan kepada AS. “Orang Amerika terlalu bising, kadang kasar. Laring mereka tidak disesuaikan untuk kesopanan,” pungkas Duterte, meniru aksen Amerika.

“Mereka kurang ajar. Melakukan kerja sama dengan mereka, adalah cara cepat untuk kehilangan uang kalian,” ungkap Presiden yang menyebut Presiden Barack Obama ‘anak jalang’ itu.

AS Meminta Penjelasan dari Filipina
Segera setelah Duterte mengutarakan pidatonya, Kementerian Luar Negeri AS mengatakan akan meminta penjelaan dari Filipina. Kemenlu AS merasa heran dengan komentar Duterte tersebut dan tidak sejalan dengan aliansi AS-Filipina yang sudah berlangsung selama 70 tahun dan membantu menjaga stabilitas di Asia.

“Kami akan meminta penjelasan jelas apa yang dimaksudkan oleh Presiden (Duterte), ketika berbicara mengenai perpisahan dengan AS,” tutur Juru Bicara Kemenlu AS, John Kirby.

Diplomat senior AS yang mengurus isu Asia Timur dan Pasifik Daniel Russel, dijadwalkan akan mengunjungi Manila pada akhir pekan.

Sejak naik ke tampuk kepemimpinan Juni lalu, Duterte terus melontarkan kontroversi. Mantan Wali Kota Davao itu marah besar ketika dikritik AS dan Eropa serta PBB dalam cara menangani peredaran narkoba.

Kemarahan presiden berusia 71 tahun itu muncul ketika AS menunjukkan kekhawatiran mengenai adanya laporan pembunuhan diluar hukum terhadap pelaku pengedar narkoba.

Kunjungan empat hari Duterte di Tiongkok, disertai 400 pengusaha Filipina. Menteri Perdagangan Filipina Ramon Lopez mengatakan selama kunjungan berhasil ditandatangani kesepakatan perdagangan senilai USD13,5 miliar.

Presiden Tiongkok Xi Jinping pun menggambarkan pertemuannya dengan Duterte sebagai batu loncatan hubungan kedua negara. Xi menilai Filipina dan Tiongkok bisa mengatasi permasalahan dengan damai, tanpa menyebut konflik Laut China Selatan. (rm/afp)

portal berita medan
informatif & terpercaya