Twitter Akhiri Hidup Vine

Twitter memutuskan untuk mengakhiri Vine.
Twitter memutuskan untuk mengakhiri Vine.

Twitter Akhiri Hidup Vine
Medan | rakyatmedan.com
Twitter akan mengakhiri Vine, aplikasi video pendek yang awalnya diharapkan akan mendukung Twitter dengan komunitas kreator mandiri. Twitter menyebutkan, aplikasi ini akan dihentikan “dalam beberapa bulan ke depan.”

Seorang narasumber menjelaskan pada The Verge, akan cukup banyak pekerja Vine yang dipecat, meski Twitter menolak untuk menjelaskan dengan lebih detail berapa banyak pekerja Vine yang dirumahkan atau apakah mereka akan ditawarkan pekerjaan baru.

Twitter menyebutkan, mereka tidak akan menghapus video yang telah diunggah di Vine. Setidaknya untuk saat ini.

“Kami menghargai Anda, Vines Anda dan kami akan melakukan ini dengan benar,” kata Twitter dalam sebuah post di Medium.

“Anda dapat mengakses dan mengunduh Vines Anda. Kami akan membiarkan situs ini tetap online karena kami pikir penting bagi Anda untuk tetap dapat melihat berbagai Vines hebat yang telah dibuat.”

Tahun 2012, Twitter membeli Vine, yang ketika itu belum meluncur. Vine diluncurkan pada Januari 2013. Perlahan, video 6 detiknya menjadi format populer untuk menunjukkan momen penting dalam olahraga, visual efek dan bahkan komedi.

Beberapa bintang Vine bahkan masuk ke dapur rekaman setelah video pendek nyanyian mereka menjadi viral. Contoh yang paling populer adalah Shawn Mendes.

Sayangnya, Vine tidak pernah tumbuh sesuai harapan Twitter. Para pendirinya lalu keluar dan Twitter tidak agresif mengembangkan aplikasi itu. Peluncuran fitur video pada Instagram pada 2013 memperlambat pertumbuhan Vine. Sama seperti Twitter, peluncuran fitur baru pada Vine berlangsung lambat.

Akhir dari Vine tiba ketika Twitter berusaha untuk merombak produk intinya, yang tidak dapat dengan cepat menambahkan pengguna baru atau pendapatan. Twitter berkata, mereka akan merumahkan 9 persen dari total pekerjanya, yaitu sekitar 350 orang.

Belum lama ini, Twitter juga mencari pihak yang tertarik untuk mengakuisisi. Pada akhirnya, tidak ada yang mau membeli Twitter. (rm/the verge)

portal berita medan
informatif & terpercaya