Kapolri: NKRI Siaga I Demo 4 November, Polisi Dilarang Bawa Senpi

Kapolri Jenderal Tito Karnavian
Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Kapolri: NKRI Siaga I Demo 4 November, Polisi Dilarang Bawa Senpi

Depok | rakyatmedan.com
Korps Brimob Polri menetapkan status Siaga I jelang aksi besar-besar 4 November nanti. Kesiagaan tersebut untuk mengatur jumlah personel dengan kebutuhan yang dihadapi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, status Siaga I Brimob Polri bersifat internal. Status tersebut disampaikan kepada seluruh anggota Brimob untuk siaga.

“Karena Brimob banyak sekali kebutuhannya,” kata Jenderal Tito usai apel pasukan di lapangan Markas Korps Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Senin (31/10).

Kebutuhan tersebut, Tito menjabarkan, terkait dengan kebutuhan pasukan di Poso dalam operasi Tinombala, permintaan daerah rawan saat Pilkada, dan pengiriman untuk daerah rawan bencana. Operasi Tinombala sendiri dibutuhkan 3 ribu personel Brimob.

“Mabes Polri harus mengonsolidasikan kekuatan Brimob yang ada. Oleh karena itu Brimob berlakukan Siaga I, itu sebagai salah satu bentuk konsolidasi internal, biarkanlah Brimob yang melakukan pengaturan. Jadi jangan disalahkan dengan Siaga I,” Tito menambahkan.

Terkait dengan demonstrasi 4 November nanti, kata Tito, Polda Metro Jaya sudah melakukan antisipasi terlebih dulu agar demonstrasi berjalan lancar.

“Imbauan ke masyarakat sudah dilakukan, kerjasama dengan masing-masing koordinator lapangan nanti sudah ada komunikasi. Jadi semua sejauh ini alhamdulilah bersyukur adanya komitmen untuk unjuk rasa yang damai,” kata Tito.

Polisi Dilarang Bawa Senjata Api
Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga mengimbau jajarannya untuk mengamankan demonstrasi besar-besaran 4 November nanti. Tito melarang personelnya menggunakan senjata api dalam pengawalan demonstrasi itu.

“Instruksi saya untuk pasukan yang berhadapan dengan demonstran enggak boleh bawa senjata, apalagi peluru tajam. Ada tim dipersiapkan khusus untuk menghadapi situasi bila terjadi kontigensi. Penggunaan kekerasan dengan peluru tajam harus dibatasi hanya perintah tertentu aja. Enggak boleh main sendiri,” kata Tito.

Saat ini pihaknya terus menjalin dialog dan komunikasi dengan masing-masing perwakilan organisasi masyarakat yang ikut turun ke jalan.

“Dialog terus kita lakukan untuk redam situasi,” kata Tito.

Eskalasi politik akhir-akhir ini, Tito menjelaskan, meningkat. Ini sejalan dengan mulai berjalannya Pilkada serentak. Ini disebabkan adanya kelompok masyarakat yang dukung mendukung para pasangan calonnya masing-masing.

“Dari sudut pandang polisi dapat timbulkan potensi konflik, keinginan menangkan pasangan calon yang seharusnya sesuai aturan seringkali menghalalkan segala cara,” ujar Tito.

Selain itu, Tito meminta personelnya agar solid secara internal. “Enggak boleh ada perpecahan. Komando harus jelas, enggak boleh masing-masing terjemahkan sendiri. Jalin hubungan baik dengan satuan kawan kita TNI,” dia mengatakan.

“Jangan antara kita saling ribut di Brimob, dengan satuan wilayah ribut, jangan sampai terjadi,” Tito memungkasi.

Demonstrasi 4 November nanti berkaitan dengan tuntutan sejumlah kelompok masyarakat yang meminta polisi tetap menyelidiki dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, saat berkunjung ke Kepulauan Seribu. (rm/l6)

portal berita medan
informatif & terpercaya