ini dia pelaku 10 orang terduga provakator 4 november polisi masih memeriksa kerusuhan tersebut

Aksi damai Jumat 4 November kemarin berubah jadi demonstrasi anarkitis. Belasan kendaraan rusak parah dan korban luka, baik dari pendemo maupun aparat kepolisan, berjatuhan.
Aksi damai Jumat 4 November kemarin berubah jadi demonstrasi anarkitis. Belasan kendaraan rusak parah dan korban luka, baik dari pendemo maupun aparat kepolisan, berjatuhan.

Kepolisian masih memeriksa 10 orang itu ditangkap karena diduga provokator kerusuhan setelah aksi damai yang menuntut proses hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pada Jumat lalu.

Dalam keterangan persnya, juru bicara mabes Polri Irjen Pol. Boy Rafli Amar mengatakan 10 orang itu berusia antara 16-38 tahun dan ditangkap di kawasan Medan Merdeka.
“Yang diduga terkait dengan provokator jumlahnya ada 10 yang masih diperiksa, usianya 16 tahun, 38 tahun, 17 tahun, 24 tahun dengan latar belakang berasal dari daerah NTB, luar Jakarta, berbagai daerah di Pulau Jawa, bisa jadi merupakan pendatang yang sama-sama hadir dalam unjuk rasa kemarin,” jelas Boy Rafli di mabes Polri, Sabtu ( 05/11).

Boy Rafli mengatakan 10 orang ini akan diperiksa selama 1×24 jam, sebelum ditentukan apakah ada unsur pidana atau tidak yang dilakukan mereka.
Sebelumnya dalam wawancara melalui telepon, Kabid Humas Polda Metro Jaya Awi Setiyono mengatakan delapan orang ditangkap, dan 15 orang lainnya ditangkap karena diduga melakukanpenjarahan di sebuah mini market di kawasan Jakarta Utara.
“Jika yang di Penjaringan merupakan kriminal murni dan memanfaatkan situasi yang ada, ” jelas Boy Rafli.

Tak ada korban jiwa
Dalam kerusuhan di kawasan Medan Merdeka, ada tiga kendaraan polisi yang dibakar dan 18 lainnya rusak akibat dilempari batu. Puluhan polisi mengalami luka dan sekitar 160 orang menjalani rawat jalan akibat terkena gas air mata.
Boy Rafli menyampaikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa Jumat malam, dan memastikan satu orang yang meninggal di RSPAD karena memiliki riwayat asma.

“Sedangkan informasi adanya yang meninggal itu informasi karena sebelumnya merupakan penderita asma di RSPAD, ini sedang kita cari tahu bagaimana titik awalnya, memang tercatat di RS karena berkaitan dengan penyakit yang diderita sebelumnya,” jelas Boy Rafli.

Dalam keterangan di mabes Polri, Boy mengatakan sejumlah orang peserta aksi membawa senjata tajam berupa bambu dan melempar botol ke arah petugas pada Jumat malam.
“Bukan satu – dua orang yang melakukan penyerangan dengan bambu, ada botol bambu dilempar kepada petugas, ada benda-benda yang terlarang lainnya. Ini kita sudah minta yang tidak ada, tidak boleh membawa barang-barang yang membahayakan masyarakat lain,” jelas Boy.

Polisi mengatakan tidak menggunakan peluru tajam untuk membubarkan massa di depan Istana Merdeka dan hanya melontarkan gas air mata.

“Proses hukum transparan”
Kepolisian juga berjanji proses hukum akan dilakukan dengan cepat dan transparan, serta menyampaikan hasil penyidikan yang dilakukan terhadap kasus dugaan “penistaan agama” dalam waktu dua pekan.
“Dalam dua minggu itu akan disampaikan proses penydikan kasus itu seperti apa, ada gelar perkara, pengambilan bahan dari saks ahli sudah dilakukan, termasuk habib Rizieq,” kata Boy Rafli.
Polisi rencananya akan memanggil Ahok pada Senin (07/11), dan meminta keterangan sekitar dua orang saksi lainnya.
Boy mengatakan proses hukum yang dilakukan sesuai dengan mekanisme standar yang biasa dilakukan kepolisian dalam menyelidiki suatu kasus.

Polisi, menurut Boy, juga menyelidiki kasus yang melibatkan Buni Yani, yang mengunggah video Ahok ketika berpidato di Kepulauan Seribu yang sudah diedit sehingga menjadi viral di media sosial.

“Aktor politik memanfaatkan situasi”
Presiden Joko Widodo melakukan rapat terbatas pada Jumat tengah malam dan menyampaikan terimakasih kepada ulama yang memimpin aksi damai pada Jumat lalu.

“Sebagai negara demokrasi, kita menghargai proses penyampaian aspirasi melalui unjuk rasa yang dilakukan pada pagi hari, dengan cara-cara tertib dan damai. Terimakasih kami sampaikan kepada para ulama, para kyai, para habib dan para ustad yang telah mempin umatnya menyejukkan sehingga sampai maghrib tadi berjalan tertib dan damai.”
Namun, presiden menyesalkan aksi kemudian menjadi rusuh di malam hari.

“Dan kita lihat telah ditunggai oleh aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi,” ujar Presiden Jokowi.
Presiden juga mengatakan dalam pertemuan perwakilan pengunjuk rasa dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla disampaikan akan proses hukum terhadap Basuki Tjahaya Purnama akan dilakukan secara tegas, cepat dan transparan.
Dalam keterangan pers itu, presiden juga menyampaikan apresiasi terhadap aparat keamanan yang telah melakukan pendekatan persuasif dalam mengamankan unjuk rasa damai yang digelar sejumlah ormas Islam. (rm-BC)

portal berita medan
informatif & terpercaya