Julian Assange Hadapi Jaksa Swedia atas Tuduhan Perkosaan

Assange membantah tudingan pemerkosaan tersebut dan menolak memenuhi panggilan pengadilan untuk dimintai keterangan karena takut Swedia akan mengekstradisi dirinya ke Amerika Serikat. (AFP Photo/Pool/John Stillwell)
Assange membantah tudingan pemerkosaan tersebut dan menolak memenuhi panggilan pengadilan untuk dimintai keterangan karena takut Swedia akan mengekstradisi dirinya ke Amerika Serikat. (AFP Photo/Pool/John Stillwell)

London | rakyatmedan.com
Julian Assange akan menghadapi jaksa Swedia di kedutaan Ekuador di London atas tuduhan melakukan perkosaan, Senin 14 November. Tuduhan tersebut sudah membelit Assange sejak enam tahun lalu.

Rencana pertemuan jaksa Swedia dengan Assange menandai kemajuan dalam kasus yang telah lama terkunci, sejak pendiri WikiLeaks itu mencari suaka di kedutaan Ekuador pada 2012. Ia berlindung demi menghindari ekstradisi ke Swedia.

Swedia kemungkinan akan berada di bawah tekanan untuk melayangkan tuduhan formal kasus perkosaan atau benar-benar menutup kasus tersebut setelah Assange selesai diwawancara.

Dilansir Guardian, Senin (14/11), beberapa pendukung Assange berharap wawancara bisa menjadi momen penting.

Assange, yang berasal dari Australia, bersikeras menolak diekstradisi ke Swedia. Meninggalkan kedutaan akan membuatnya rentan terhadap ekstradisi selanjutnya ke Amerika Serikat (AS), di mana dirinya dapat dituntut atas serangkaian bocoran WikiLeaks terkait sejumlah dokumen rahasia AS.

Selama kampanyenya, presiden terpilih Donald Trump berseru “Aku cinta WikiLeaks!” berkat publikasi ulang email-email partai Demokrat yang terbukti sangat merusak citra lawannya, Hillary Clinton. Banyak pendukung Assange dan Trump meminta Trump untuk memberi “pengampunan” kepada Assange saat dia resmi menjabat nanti.

Tapi pendiri WikiLeaks telah dikritik pedas sejak pilpres AS. Dalam kampanye non-partisan, mereka membantah pernyataan yang dirilis WikiLeaks, karena dinilai hanya menyerang Clinton.

Ekuador memutuskan hubungan internet Assange di kedutaan selama kampanye pemilu AS karena khawatir ia memakainya untuk mempengaruhi pilpres AS.

Pengacara Assange asal AS, Barry Pollack, mengatakan kepada Guardian bahwa beberapa komentar Trump tentang WikiLeaks sebagai suatu dorongan. “Saya pikir itu menunjukkan bahwa Trump memahami bahwa situs ini seperti jurnalis dalam menyampaikan informasi kepada publik,” kata Pollack.

Trump bisa mengampuni Assange lantaran ia belum pernah dihukum di AS, kata Pollack, seraya mengutip preseden grasi Gerald Ford ke Richard Nixon di masa lalu. “Jadi, Presiden Trump benar-benar bisa mengampuni Assange.”

Menteri Luar Negeri Ekuador Guillaume Long mengatakan negaranya telah mendesak Swedia mewawancarai Assange di kedutaan “sejak kali pertama kami memberi suaka untuk Assange. Jadi kami senang bahwa wawancara akhirnya akan berlangsung, walaupun kami berharap hal itu terjadi lebih awal.”

portal berita medan
informatif & terpercaya