PGI Imbau Umat Kristen Tetap Tenang Sikapi Bom di Samarinda

Sebuah ledakan terjadi di Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu pagi tadi. Ledakan yang diduga dari bom molotov itu melukai anak-anak.
Sebuah ledakan terjadi di Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu pagi tadi. Ledakan yang diduga dari bom molotov itu melukai anak-anak.

Jakarta | rakyatmedan.com
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyerukan kepada umat Kristen di Indonesia untuk tetap tenang. Mereka diminta tidak resah menyikapi ledakan bom molotov di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

PGI minta kepada umat Kristen maupun masyarakat lain tidak membangun opini liar, terutama di media sosial, yang akan semakin menebar teror dan kebencian.

“Kami mengimbau kepada semua umat Kristen di mana pun berada untuk tetap tenang. Tidak perlu membangun opini liar, terutama di media sosial, yang semakin menebar teror dan kebencian bagi diri sendiri dan masyarakat umum. Kita doakan bersama tragedi kemanusiaan ini,” kata Sekretaris Umum PGI, Pendeta Gomar Gultom, Senin (14/11).

PGI mengimbau umat untuk mempercayakan penanganan masalah ini kepada pemerintah dan aparat penegak hukum. Sebagai warga bangsa, kata Gomar, umat Kristen harus tunduk dan menjunjung tinggi konstitusi. Jangan memaksakan kehendak melampaui mekanisme hukum.

“Kebenaran hukum harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh umat Kristen sebagai warga bangsa. Kami mengajak umat Kristen terus mendoakan pemerintah Indonesia menegakkan keadilan dan perdamaian di bumi tercinta ini,” kata Gomar.

Umat Kristen diimbau membangun solidaritas sesama anak bangsa, setia dalam pelayanan kasih, dan ikut mengambil bagian membangun pendamaian di mana pun, kapan pun atau dalam situasi apa pun.

“Di tengah pencobaan ini, mari tetap membangun solidaritas kebangsaan bersama semua orang yang berkehendak baik, wujudkan NKRI sebagai rumah bersama masa depan bersama,” kata Gomar.

Kepada pemerintah, PGI meminta agar kasus itu diselesaikan dengan tindakan tegas dan segera.

Pemerintah diimbau untuk mencegah peristiwa sejenis dengan menindak tegas bibit-bibit intoleransi dalam rupa ujaran kebencian yang akhir-akhir ini makin marak.

PGI juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para pimpinan agama, untuk tetap setia menanamkan dan menebarkan pesan-pesan perdamaian, kemanusian, dan kebangsaan kepada umat masing-masing. Karena untuk tujuan itulah mestinya agama-agama hadir di muka bumi ini.

Peristiwa pengeboman di Gereja Oikumene terjadi pada Minggu, 13 November, sekitar pukul 10.00 WITA. Saat jemaat usai melaksanakan ibadah dan keluar dari gereja, tiba-tiba seorang pria melemparkan bom molotov. Pelaku kemudian melarikan diri dengan melompat ke Sungai Mahakam. Warga yang menyaksikan kejadian itu langsung mengejar dan membekuk pelaku.

Selain melukai korban, ledakan juga merusak empat sepeda motor. Satu di antaranya milik pelaku. Dari empat anak-anak yang terluka, satu meninggal. Sementara itu, puluhan personel Detasemen Gegana Brimob Polda Kaltim bersenjata lengkap masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. (rm/mtc)

portal berita medan
informatif & terpercaya