Penetrasi Internet Indonesia Tinggi, Tapi Lambat

Rata-rata kecepatan internet di Indonesia masih rendah.
Rata-rata kecepatan internet di Indonesia masih rendah.

Jakarta | rakyatmedan.com
Kecepatan penetrasi internet Indonesia dinilai cukup cepat jika diadu dengan beberapa negara lain. Bahkan, pertumbuhan penetrasi ini termasuk yang tertinggi di dunia. Namun, kuatnya penetrasi ini tidak dibarengi dengan kecepatan jaringan yang memadai.

Per Q2 2016, Indonesia memiliki kecepatan internet maksimum mencapai 91,9Mbps, meningkat sekitar 355 persen dari tahun sebelumnya. Sayangnya, kecepatan rata-rata internet di Tanah Air hanya sekitar 5,9Mbps, masih di bawah rata-rata dunia yang mencapai 6,1Mbps. Penghitungan kecepatan ini sudah mencakup jaringan seluler, jaringan kabel, dan jaringan nirkabel terbatas WiFi.

Sementara jika dibandingkan dengan negara lainnnya, Indonesia berada di peringkat 79 dalam hal kecepatan rata-rata dan tertinggi dalam akses internet, kalah dengan Malaysia di peringkat 68 dengan rerata kecepatan 6,8Mbps.

Singapura sebagai negara Asia Tenggara lainnya menduduki peringkat 8 dunia, dengan rata-rata kecepatan 17,2Mbps. Saat ini, Korea Selatan mempunyai koneksi internet terkencang, yang rata-rata mencepai 27Mbps.

Berbicara lebih jauh mengenai Indonesia, kecepatan internet secara rata-rata memang tidak merata. Jakarta adalah kota dengan kecepatan internet maksimum 7Mbps dengan rata-rata 2,3Mbps. Nasib yang sama tidak dirasakan oleh kota selain Jakarta, terutama di luar pulau Jawa. Maluku dan Papua punya akses internet dengan kecepatan tertinggi 300Kbps dan rata-rata 115Kbps.

“Kecepatan internet di Papua paling rendah, padahal tarifnya jauh lebih mahal dari Jakarta,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, saat menjadi pembicara utama Efisiensi Industri Telekomunikasi untuk Pengembangan Ekonomi Digital di Jakarta, Selasa (29/11).

Salah satu tantangan utamanya adalah memasang infrastruktur di daerah yang sulit dijangkau. Berdasarkan data BPS, topografi Indonesia yang terdiri dari pegunungan dan lembah adalah hambatan dalam memasang fasilitas yang pas untuk jaringan telekomunikasi via kabel.

Oleh karena itu, strateginya adalah mempercepat pembangunan jaringan seluler. BPS menyebut 91 persen wilayah berpenduduk sudah terjangkau jaringan seluler, dengan 76 persen mereka yang tinggal di dataran, 20 persen di lereng, dan 4 persen di kawasan lembah.

Kehadiran proyek Palapa Ring diharapkan menjadi salah satu tulang punggung dalam meningkatkan penetrasi internet ke daerah yang dianggap tidak menguntungkan secara keuangan (non-financially feasible). Dengan Palapa Ring, pemerintah berharap untuk menghubungkan 57 kabupaten dan kota. Sehingga, diharapkan, akses internet di Indonesia akan menjadi lebih merata.

Rudiantara mengatakan, Palapa Ring diharapkan akan selesai pada akhir tahun 2018 dan akan mulai beroperasi pada saat yang sama.

Palapa Ring terbagi menjadi 3 paket: Paket Barat, Paket Tengah dan Paket Timur. Paket Barat mencakup wilayah Riau, Kepulauan Riau hingga Pulau Natuna dengan panjang 2.000 km. Sementara Paket Tengah menjangkau Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara hingga Kepulauan Sangihe-Talaud dengan panjang 2.700 km.

Terakhir, Paket Timur memiliki panjang kabel terpanjang yaitu 6.300 km. Ia mencakup Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat dan Papua.(rm/mtc)

portal berita medan
informatif & terpercaya