Dua Juta Orang Tandatangani Petisi Referendum Ulang Brexit

1676
Warga berunjuk rasa di depan Parlemen Inggris setelah hasil referendum Brexit diumumkan, Jumat (24/6). (rakyatmedan.com | Foto: EPA)
Warga berunjuk rasa di depan Parlemen Inggris setelah hasil referendum Brexit diumumkan, Jumat (24/6). (rakyatmedan.com | Foto: EPA)

Dua Juta Orang Tandatangani Petisi Referendum Ulang Brexit
rakyatmedan.com
Lebih dari dua juta orang telah menandatangani sebuah petisi yang menyerukan diadakannya kembali referendum Brexit untuk kali kedua, setelah pada Kamis kemarin warga Britania Raya memilih keluar dari keanggotaan Uni Eropa.
Sesuai aturan dalam politik Inggris, sebuah petisi yang ditandatangani lebih dari 100 ribu orang layak dipertimbangkan untuk dibahas dalam rapat di parlemen.
Warga Inggris memilih keluar (Leave) dengan raihan suara 52 persen dari kubu tetap (Remain) yang mendapat 48 persen. Namun mayoritas pemilih di London, Skotlandia dan Irlandia Utara memilih Remain.
Perdana Menteri Inggris David Cameron sebelumnya mengatakan tidak akan ada referendum kedua. Jumat kemarin ia mengumumkan hendak mengundurkan diri pada Oktober mendatang, setelah hasil referendum dimenangkan kubu Leave.
Seperti dilansir BBC, Sabtu (25/6), politikus dari Partai Buruh David Lammy mengatakan “orang-orang dapat menghentikan kegilaan ini melalui sebuah voting di Parlemen.”
Petisi meminta referendum dibuat seorang warga bernama William Oliver Healey, yang bertuliskan: “Kami meminta pemerintah mengimplementasikan aturan jika Remain atau Leave meraih suara di bawah 60 persen, dengan tingkat keikutsertaan di bawah 75 persen, maka harus ada referendum kedua.”
Dalam referendum Brexit pada Kamis, tingkat keikutsertaan warga mencapai 72,2 persen, jauh lebih tinggi dari 66,6 persen pada pemilihan umum tahun lalu. Jumlah tandatangan petisi Healey terus meningkat sejak hasil referendum Brexit diumumkan.
Fakta bahwa lebih dari 1,5 juta orang telah menandatangan petisi meminta referendum kedua telah menarik banyak perhatian. Namun, petisi ini tidak akan berujung referendum kedua.
Alasan utamanya adalah tidak adanya klausul yang mengatur mengenai hal tersebut sebelum referendum Brexit dimulai. Referendum yang menyerukan adanya parlemen Skotlandia pada 1979 berakhir gagal karena adanya klausul. Dalam klausul itu disebutkan parlemen Skotlandia dapat terbentuk jika didukung lebih dari 40 persen pemilih terdaftar.
Klausul itu dibuat sebelum referendum dimulai. Semua orang sudah memahaminya. Dalam referendum Brexit, tidak ada hal semacam itu. Kubu kalah tidak bisa membuat aturan baru.
Meski seandainya pun petisi Healey berbuah debat di Parlemen, referendum kedua tetap tidak dapat diterapkan karena tidak ada kekuatan hukumnya.

bbc

Portal berita medan informatif & terpercaya