AS Kutuk Kekerasan Berdarah di Sudan Selatan

48
Pertempuran meletus di Juba, Sudan Selatan. (rakyatmedan.com | Foto: AFP)
Pertempuran meletus di Juba, Sudan Selatan. (rakyatmedan.com | Foto: AFP)

AS Kutuk Kekerasan Berdarah di Sudan Selatan

rakyatmedan.com
Amerika Serikat (AS) mengutuk keras meletusnya kembali aksi kekerasan di Sudan Selatan yang menewaskan ratusan orang dan membuat ribuan lainnya melarikan diri.
Pertempuran di Juba melibatkan dua kubu, yakni pasukan Presiden Salva Kiir dan loyalis Wakil Presiden Riek Machar.
“AS mengutuk keras kembalinya aksi kekerasan di Sudan Selatan. Ini harus dihentikan,” ujar Penasihat Keamanan Nasional Susan Rice, Senin (11/7).
“Aksi kekerasan sia-sia ini — yang dilakukan mereka yang mementingkan kepentingan sendiri ketimbang negara dan rakyatnya — berisiko menghancurkan semua yang sudah dibangun di sudan Selatan sejak lima tahun terakhir,” lanjut dia.
Negeri Paman Sam adalah satu satu pendukung kunci Sudan Selatan, negara termuda di dunia, yang baru merdeka dari Sudan pada 2011.
Presiden Kiir dan Wapres Machar telah memerintahkan adanya gencatan senjata. Diharapkan pertempuran sengit yang telah berlangsung selama tiga hari dapat berakhir dan tidak berujung menjadi perang sipil.
“Pemimpin kelompok bersenjata, para komandan dan prajuritnya, harus memfokuskan sumber daya mereka untuk segera mengakhiri kekerasan,” tutur Rice. “Kami meminta mereka yang bertempur untuk kembali ke markas masing-masing.”
Rice pernah menjadi asisten menteri luar negeri untuk urusan Afrika di bawah mantan presiden Bill Clinton. Ia kemudian menjadi duta besar untuk PBB di bawah Presiden Obama, sebelum akhirnya menjabat posisi saat ini.
Meletusnya pertempuran terbaru di Sudan Selatan dipicu baku tembak berdarah di sebuah pos pemeriksaan pada Kamis malam pekan lalu. Baku tembak sempat terhenti pada Sabtu, namun kembali berlanjut satu hari setelahnya.
Perang sipil meletus di Sudan Selatan pada Desember 2013, saat Kiir menudung Machar merencanakan kudeta. Puluhan ribu orang tewas dan lebih dari dua juta lainnya terusir dalam konflik tersebut.

afp
portal berita medan
informatif & terpercaya