Personel Satgas Tinombala. (rakyatmedan.com | Ant: Fiqman Sunandar)
Personel Satgas Tinombala. (rakyatmedan.com | Ant: Fiqman Sunandar)


Kontak Senjata di Poso, Pimpinan Mujahidin Santoso Diduga Tewas

rakyatmedan.com
Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur, Santoso, dikabarkan tertembak mati saat kontak senjata antara Satgas Tinombala dengan lima orang diduga anggota kelompok Santoso, di wilayah Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7), sekitar pukul 18.30 WITA.
Satgas Tinombala dengan sandi Alfa 29 melaporkan bahwa mereka terlibat kontak senjata selama setengah jam sejak pukul 17.00 WITA.
"Dua orang meninggal dunia, lelaki dan perempuan, dan kami mengamankan satu pucuk senjata M-16," demikian dilaporkan Alfa 29.
Lelaki yang tertembak berjenggot dan bertahi lalat diduga adalah Santoso. Sedangkan satu jenazah perempuan belum dikenali. Adapun tiga lainnya, yakni dua perempuan dan satu lelaki melarikan diri. Yang perempuan diduga lari ke barat dan lelaki ke selatan.
Sementara itu, empat personel Alfa 29 mengamankan TKP, jenazah, dan barang bukti. Lima lainnya mengejar.
Wakapolda Sulteng Kombes Leo Bonalupis membenarkan adanya kontak senjata itu. "Patut diduga kuat yang tertembak Santoso," kata dia.
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto membenarkan ada kontak senjata. Namun, dia belum bisa memastikan berapa jumlah korban dan identitasnya.
"Benar ada kontak tembak dan ada korban dari pihak mereka. Tapi untuk jumlah, korban, dan kondisi belum diketahui. Tim masih bekerja," ujarnya.
Santoso diburu sejak 2007. Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur itu diduga terlibat aksi terorisme di beberapa tempat di Indonesia. Bahkan, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memasukkan namanya dalam daftar teroris global.
Catatan Kepolisian, Santoso sempat mengikuti pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho, Aceh, pada 2010. Januari 2011, ia membentuk pelatihan militer di pegunungan di Poso, Sulawesi Tengah.
TNI dan Polri membentuk Operasi Camar Maleo untuk menangkap Santoso yang dimulai pada Januari 2015. Selama Operasi Camar Maleo I hingga IV prajurit menangkap 24 terduga teroris.
Mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti kemudian menargetkan bisa menangkap Santoso tahun lalu atau di awal tahun ini. Namun, hingga Operasi Camar Maleo tutup buku pada 9 Januari 2016, tim gabungan belum mampu menangkap Santoso.
Dari sekian kali baku tembak tentara dan polisi dengan kelompok ini, tidak ada nama Santoso dalam daftar korban. Lalu, TNI dan Polri bersatu padu mengejar Santoso dengan menggelar Operasi Tinombala.
Operasi Tinombala dimulai 10 Januari dan sedianya berakhir 9 Maret, kemudian diperpanjang hingga kini.

mtv
portal berita medan
informatif & terpercaya