Bramasto Rahman Prasojo didampingi ibundanya (2 kiri) dan Kepala sekolah serta guru pembimbing dengan bangga membawa medali perak dan perunggu ke sekolah setelah berhasil meraih juara pada kategori Physics di APCYS 2016 India. Namun prestasinya tersebut luput dari perhatian Provsu.
Bramasto Rahman Prasojo didampingi ibundanya (2 kiri) dan Kepala sekolah serta guru pembimbing dengan bangga membawa medali perak dan perunggu ke sekolah setelah berhasil meraih juara pada kategori Physics di APCYS 2016 India. Namun prestasinya tersebut luput dari perhatian Provsu.

Provsu Tak Perhatian Siswa Berprestasi di Kancah Internasional  

Medan | rakyatmedan.com
Provinsi Sumatera Utara (Provsu) dalam hal ini Dinas Pendidikan luput memperhatikan siswa yang berprestasi. Padahal prestasi yang dihasilkan bukan saja membawa nama daerah tapi juga Indonesia hingga ke kancah Internasional.
Sejumlah prestasi di ajang kompetisi tingkat internasional kembali diraih siswa Sekolah Chandra Kusuma. Setelah Wilbert Osmond siswa Kelas II SMA berhasil meraih medali emas di ajang International Conference of Young Scientists (ICYS) 2016 Rumania, kini prestasi gemilang lainnya diraih siswa Kelas II SMP, Bramasto Rahman Prasojo yang berhasil meraih medali perak dalam kategori Physics di Ajang Asia Pacific Conference of Young Scientists (APCYS) 2016 India.
Namun prestasi gemilang yang dihasilkan pelajar tersebut luput dari perhatian pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Buktinya, belum ada sedikitpun bentuk apresiasi yang diberikan kepada siswa-siswa berprestasi dari sekolah ini. Padahal siswa tersebut sudah melangkah hingga kancah international dengan membawa nama negara, Indonesia.
Kepala Sekolah SMP Chandra Kesuma School, Miss Rita, mengungkapkan, siswa-siswa yang meraih prestasi dari sekolah ini sebenarnya ingin juga prestasinya diketahui masyarakat dan pemerintah.
“Namun langkah yang kita lakukan dengan menyurati Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumut untuk melakukan kunjungan dan melaporkan prestasi yang dihasilkan, samasekali tidak ada mendapat respon atau tanggapan bisa menerima kita,” ungkap Miss Rita, Senin (25/7).
Kekecewaan yang disampaikannya itu bukan tanpa alasan. Sebab surat untuk audiensi sudah disampaikan sekira lebih satu bulan lalu dan sudah dikonfirmasi balik kepada staf dan ajudan, tapi tetap juga tidak ada tanggapan.  Padahal, sambung Rita, kota Surabaya, Tangerang dan Bali sudah memasukkan dana bantuan dari APBD untuk membantu peningkatan kualitas prestasi siswanya. Namun di Sumut belum ada bentuk perhatian maupun dukungan atas prestasi siswa yang membawa nama provinsi dan negara.
Sementara itu pada ajang APCYS itu, delegasi Indonesia, termasuk siswa Chandra Kusuma School diterima dan disambut Dubes RI di India, Drs Rizali Wilmar Indrakesuma pada 18 Juli lalu.
Ketua Dewan Pendidikan Sumut, Prof Syaiful Sagala juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah kepada sekolah maupun siswa yang berpretasi.
“Pemerintah dalam hal ini khususnya Dinas Pendidikan Sumut hendaknya tidak diskriminasi. Jangan karena sekolah swasta ataupun kegiatan yang bukan atas nama pemerintah, maka kurang memberikan perhatiannya,” ungkap Syaiful Sagala.
Guru besar Unimed ini menilai kondisi itu memang seperti demikian halnya perilaku birokrasi, tidak standar cara kerjanya. Untuk itu dia berharap agar instansi terkait memberikan apresiasi kepada siswa berprestasi.
“Sementara itu kepada pihak sekolah kita harapkan juga untuk tidak berkecil hati dan tetap tingkatkan prestasi gemilang lainnya,” ungkapnya.
Seperti diketahui Bramasto merebut dua medali medali perak dan perunggu untuk dua kategori sains fisika antar negara-negara Asia Pasifik dari kejuaraan APCYS 2016 di Amity University Haryana, New Delhi, India.‬
Bramasto mendapatkan medali perak untuk sesi presentasi oral. Sedangkan sesi penilaian poster mendapatkan medali perunggu setelah mengalahkan sekitar belasan peserta yang berasal dari beberapa negara.‬
Brasmasto mengungkapkan, pada ajang tersebut ia membawa penelitian berjudul 'LED As a Solar Cell’, penggunaan LED (cahaya lampu) sebagai pembangkit sumber daya listrik untuk dapat digunakan pada benda elektronik.
Didampingi ibunya dr Diah Purworini, Kepala Sekolah Miss Rita, dan guru pembimbingnya Renjes Fernando Purba, anak kedua dari dua bersaudara ini mengungkapkan, munculnya ide penelitian ini karena melihat kondisi Kota Medan yang sering mengalami pemadaman listrik.
Diakuinya, untuk membawa penelitiannya dalam kompetisi tingkat Asia Pasifik membutuhkan waktu hampir setahun. Setelah dilakukan kombinasi dan perbaikan, barulah diikutkan ke ajang internasional itu.
Ibunda Bramasto, Diah mengaku sangat bersyukur melihat prestasi yang diraih anaknya. Menurutnya, sebagai orang tua dia selalu menanamkan kepada anaknya bahwa terpenting dalam suatu kompetisi adalah proses bukan hasilnya. Sebab, bila proses yang dilakukan dengan sungguh-sungguh maka hasil akan dicapai tentu akan baik.
Disebutkan Diah, cara belajar yang dilakukan oleh anaknya sama seperti pada umumnya. Namun, Bramasto lebih cenderung kepada praktik ketimbang teori. Cara belajarnya lebih kepada audio visual ketimbang teori. (rm-06)

portal berita medan
informatif & terpercaya