Tembakau
Tembakau

Ratifikasi FCTC Matikan Sektor Industri Hasil Tembakau

rakyatmedan.com

Ratifikasi terhadap Konvensi Kerangka Kerja tentang Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) oleh World Health Organization (WTO) secara perlahan dapat membunuh sektor industri hasil tembakau (IHT) nasional.

“Salah satu pedoman dalam FTCT adalah pelarangan penggunaan bahan tambahan dalam rokok, termasuk cengkih. Padahal, 95 persen rokok di Indonesia merupakan rokok keretek yang menggunakan cengkih, FCTC akan mematikan produk asli Indonesia, yaitu rokok kretek,” kata Ketua Umum Paguyuban Mitra Pelinting Sigaret Indonesia (MPSI), Djoko Wahyudi kepada pers di Jakarta, Senin (6/6).

Sedangkan, Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno mengatakan, ratifikasi FCTC membuat petani tembakau harus beralih tanam. “Kesejahteraan sekitar 2 juta petani dan pekerja tembakau di seluruh Indonesia terancam. Selain itu, pada umumnya, hanya komoditas tembakau yang dapat tumbuh di tanah kering semasa musim kemarau,” papar dia.

FCTC merupakan agenda asing untuk mematikan IHT sebagai tumpuan hidup 6 juta warga negara Indonesia. IHT merupakan penyumbang pajak terbesar ketiga di Indonesia sebesar Rp173,9 triliun pada 2015. Pemerintah melalui PMK No 47/PMK.07/2016 telah membagikan Rp2,79 triliun dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCT) kepada 16 provinsi dan kabupaten di Indonesia. Angka itu naik jika dibandingkan dengan alokasi dana tahun sebelumnya, yakni Rp2,78 triliun. Portal berita Medan Informatif dan Terpecaya (rm/01)