Filipina Ancam Keluar dari PBB

95
Presiden Filipina Rodrigo Duterte di kota Davao. (Foto: AFP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte di kota Davao. (Foto: AFP)
Warga Manila melihat lokasi penembakan terhadap seorang pengedar narkoba. (Foto: AFP)
Warga Manila melihat lokasi penembakan terhadap seorang pengedar narkoba. (Foto: AFP)

 

Filipina Ancam Keluar dari PBB
rakyatmedan.com
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam “memisahkan diri” dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah kebijakannya memerangi peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang dianggap sebagai sebuah kejahatan di bawah hukum internasional.

Sejak terpilih sebagai presiden pada Mei, Duterte mengizinkan aparat penegak hukum serta masyarakat untuk tak segan-segan membunuh pelaku kejahatan narkoba. PBB berulang kali mengecam kebijakan Duterte sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Sekitar 900 terduga pengedar narkotika telah tewas dibunuh sejak Duterte berkuasa di Filipina.

Pekan lalu, dua pakar asal PBB menyebut kebijakan Duterte “sebagai pemicu kekerasan dan pembunuhan, yang merupakan sebuah kejahatan di bawah hukum internasional.”

Merespons dengan gaya berbicara yang eksplisit, Duterte menyebut kedua pakar itu sebagai orang “bodoh,” dan menyarankan mereka untuk melihat data kematian warga tak berdosa akibat kejahatan narkotika.

“Mungkin kami harus memutuskan untuk berpisah dari PBB,” kata Duterte, seperti dikutip BBC, Minggu (21/8).

“Jika Anda bersikap seperti itu, mungkin kami lebih baik pergi.”

Duterte menilai PBB tidak mampu melawan kejahatan narkoba di berbagai penjuru dunia, termasuk Filipina. Ia juga menuduh PBB gagal memerangi terorisme, kelaparan global dan konflik di berbagai negara.

“Keluarkan saja kami dari organisasi Anda. Anda semua tidak berbuat apapun. Kemana saja Anda selama ini? Tidak pernah ada, kecuali untuk mengkritik,” tegas Duterte kepada PBB.

“Jika Anda bisa menyebutkan satu perilaku buruk saya, maka saya bisa menyebutkan 10 perilaku buruk (mengenai PBB). Anda semua tak berguna. Karena jika organisasi Anda benar-benar berjalan sesuai mandat, maka Anda dapat menghentikan semua peperangan dan pembunuhan,” tambah dia.

Sekjen PBB Ban Ki-moon dan UNODC telah mengutuk kebijakan Duterte yang mengizinkan pembunuhan terduga pengendar narkoba, yang disebut sebagai pelanggaran terhadap HAM.

Setelah memenangkan pemilu, Duterte resmi dilantik sebagai presiden Filipina pada Juni. Ia pernah menjadi pemimpin dari kota ketiga terbesar di Filipina, Davao, selama 22 tahun. Selama masa kepemimpinannya yang keras, Duterte mendapat julukan “The Punisher” atau “Si Penghukum.” (rm/bbc)

portal berita medan
informatif & terpercaya