Literasi Keuangan Akan Masuk Kurikulum Dikti

40
Muliaman Hadad dan Jonathan L Parapak.
Muliaman Hadad dan Jonathan L Parapak.

Literasi Keuangan Akan Masuk Kurikulum Dikti

rakyatmedan.com
Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Dirjen Belmawa Kemristek Dikti) Prof. Intan Ahmad mengatakan, buku Literasi Keuangan yang diluncurkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan masuk dalam kurikulum pendidikan tinggi.

Prof Intan menyebutkan, buku tersebut sangat penting bagi perguruan tinggi. Pasalnya, literasi keuangan Indonesia sejauh ini lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

“Mengenai buku ini sangat penting. Kita memiliki 4.400 perguruan tinggi dengan 7 juta mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta serta 250.000 dosen. Jadi masalah sistem pendidikan kita sangat kompleks termasuk dalam literasi keuangan. Maka buku Literasi Keuangan akan amat berguna jika masuk dalam kurikulum,” kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pada peluncuran Buku Seri Literasi Keuangan Perguruan Tinggi di Kampus Universitas Harapan (UPH),Tangerang, Banten, Selasa (23/8).

Dia menyebut, buku Literasi Keuangan sangat bagus. Jika tidak masuk dalam kurikulum akan diterapkan secara implisit. Hal ini akan sejalan dengan program Kemristekdikti untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing dengan sistem General Education.

Dijelaskan dia, General Education adalah program pembelajaran yang akan diterapkan secara menyeluruh kepada semua mahasiswa. Dalam hal ini, meskipun mahasiwa tidak mengambil fakultas ekonomi, tetapi tetap diwajibkan untuk belajar literasi keuangan. Sebab General Education akan mengajarkan persiapan menghadapi dunia kerja. Apalagi keuangan selalu berhubungan dengan semua kegiatan. Semua akan membutuhkan strategi pengelolaan uang yang baik.

“Saya berbagi pengalaman yah. Kemristek Dikti tiap tahun menyiapkan dana Bidik Misi untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga ekonomi kurang mampu. Banyak ditemukan masalah ekstrim. Mahasiswa Bidik Misi ini begitu terima uang langsung habis. Uangkan ditransfer langsung ke rekening masing-masing Rp 600.000 per bulan. Ada yang kirim ke orangtua. Jadi perlu ditingkatkan literasi keuangannya,” tutur alumnus IPB ini.

Pada kesempatan sama, Prof Intan juga menyampaikan, apreasiasi kepada OJK dan UPH. “Atas nama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, kami mengapreasiasi kerja keras luar biasa OJK dan juga untuk UPH yang turut bersama meningkatkan pendidikan Indonesia,” ujar dia.

Selanjutnya, Ketua Dewan Komisarioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad mengatakan, mendukung jika pemerintah menyertakan buku Seri Jasa Keuangan dalam kurikulum pendidikan tinggi. Buku tersebut menjelaskan secara terperinci tidak hanya menyuguhkan teori tetapi dilengkapi informasi mengenai sektor jasa keuangan.

Dia menuturkan, sejauh ini OJK setelah melakukan training of trainers kepada dosen perguruan tinggi di berbagai kota agar mudah mengajarkan materi buku tersebut kepada mahasiswa. Universitas Pelita Harapan (UPH) diharapkan dapat menjadi pelopor investor pasar modal tersebut.

Muliaman menyebut, sudah saatnya Indonesia berubah. Tidak hanya melek akan korupsi tetapi literasi keuangan. Pasalnya, kepentingan pertumbuhan bagi suatu negara adalah literasi keuangannya. Untuk mendorong literasi perlu pemikiran yang tajam dan kreatif dan sesuai dengan perkembangan teknologi.

“Literasi harus dimanfaatkan karena literasi ini bisa tingkatkan pengetahun dan perekonomian bangsa. Kita dapat mengetahui strategi dan mengatasi segala masalah keuangan,” kata Muliaman. (rm/sp)

portal berita medan
informatif & terpercaya