Wanita Muslim pakai burkini di pantai di Prancis (Foto: AFP)
Wanita Muslim pakai burkini di pantai di Prancis (Foto: AFP)

Larangan Pakai Burkini di Prancis Tuai Kritik
rakyatmedan.com
Larangan memakai burkini -baju renang tertutup penuh bagi wanita Muslim- di pantai menuai kritik di Prancis. Dengan adanya beberapa serangan teror di Prancis, 14 kota di Prancis memberlakukan larangan tersebut di pantai-pantai setempat.

Kontroversi memuncak saat beberapa foto yang viral di sosial media menunjukkan petugas polisi bersenjata memaksa seorang wanita yang memakai burkini di sebuah pantai di Nice untuk melepas burkininya.

Burkini sendiri legal di Prancis. Untuk saat ini, larangan sementara pemakaian burkini ini akan berakhir pada 31 Agustus mendatang.

Conseil d'Etat, otoritas administratif tertinggi Prancis telah mendengar dan menerima keluhan-keluhan dari kelompok-kelompok hak asasi terkait pelarangan tersebut.

Sedangkan, Perdana Menteri Prancis, Manuel Valls mengatakan burkini mewakili 'perbudakan perempuan' dan larangan itu harus ditangani sehingga tak memperburuk ketegangan antar agama.

Sebenarnya, perdebatan tentang busana Muslim ini pun terjadi juga di Jerman. Tahun lalu, lebih dari satu juta imigran tiba dan serangkaian teror menimpa Jerman membuat pemerintah setempat sedang menimbang larangan parsial memakai cadar ke sekolah dan universitas, juga di tempat umum.

"Itu tidak cocok dengan masyarakat terbuka kami. Menunjukkan wajah sangat penting untuk berkomunikasi dan hidup bersama-sama dalam masyarakat," ujar Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere, pekan lalu.

Namun, Kanselir Jerman, Angela Merkel jelas menentang pertimbangan larangan tersebut. Jerman dan Prancis masing-masing mempunyai popoluasi Muslim sekitar lima juta orang.

Larangan memakai burkini ini tentu menuai kecaman sengit di sosial media. Banyak orang melihat bahwa larangan tersebut adalah sebuah serangan terhadap Muslim serta pelanggaran hak perempuan untuk memakai apa yang ia suka.

Salah satu organisasi aktivis yang berbasis di London akan satu langkah lebih jauh menentang larangan tersebut. Mereka akan mengenakan burkini dan protes di depan Kedutaan Besar Prancis di London.

"Larangan ini merupakan pelanggaran hak-hak perempuan dan mengarah ke pelecehan karena memaksa perempuan tersebut melepas pakaiannya. Larangan tersebut juga merupakan serangan terhadap kebebasan beragama dan ekspresi budaya," kata kelompok itu. (rm/USA Today)

portal berita medan
informatif & terpercaya