Ilustrasi-Musyawarah Guru Mata Pelajaran
Ilustrasi-Musyawarah Guru Mata Pelajaran

Tingkatkan Kualitas Guru
5.600 Kelompok Kerja Guru dapat Suntikan Anggaran dari Kemendikbud
rakyatmedan.com
Guna meningkatkan kualitas guru, Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) akan mendapat suntikan anggaran untuk pelatihan dan workshop dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Kendati keberadaan KKG dan MGMP bukan suatu kewajiban, tetapi kami mendukung eksistensinya dan memberi dukungan dana guna meningkatkan pembelajaran dan mutu guru kita," kata Kepala Subdirektorat Perencanaan Kebutuhan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kemendikbud, Santi Ambarukmi, pada acara 'Kongko Pendidikan' di Jakarta, Rabu (8/6).

Menurut Santi, dana yang diberikan berkisar Rp10 juta hingga Rp50 bagi setiap KKG dan MGMP untuk 5.600 KKG/MGMP tersebut. Adapun pemilihan dan seleksi KKG-MGMP yang akan mendapat dana diserahkan pada dinas pendidikan daerah yang lebih mengetahui aktivitas dan keberadaannya. Santi menegaskan, pihaknya amat mendorong para guru aktif pada forum guru itu. Pasalnya, Kemendikbud akan memberikan poin atau kredit tersendiri bagi guru yang aktif di KKG-MGMP.

Seperti diberitakan, KKG merupakan kelompok untuk guru tingkat SD dan MGMP kelompok guru tingkat SMP dan SMA sederajat. "Saat ini, kami sedang menyusun online report dari pertemuan KKG-MGMP guna memantau kehadiran dan menghitung angka kreditnya agar ada bukti jika mereka aktif," tukasnya.
Sementara itu, pemerhati pendidikan Ifa H Misbach mengingatkan program Guru Pembelajar yang akan mengikutsertakan KKG/MGMP agar tidak menjadi jargon.

Hemat dia, guru pembelajar mampu berpikir dan bertindak sebagai pembelajar dan kreatif. "Guru pembelajar yang efektif dan kreatif sebaiknya jangan menjadi guru PNS karena akan terkungkung pola birokrasi yang masih feodal," cetusnya.

Terkait anggaran bagi KKG-MGMP, ia meminta digunakan efektif untuk pelatihan dan pembelajaran guru. "Jangan malah menjebak guru untuk ikut kegiatan semata karena uang.Tetapi jadikan pelatihan sebagai kebutuhan guru meningkatkan kompetensi pribadinya," tandas Ifa yang juga dosen Fakultas Psikologi Pendidikan Universitas Padjadjaran Bandung.

Totok Amin Soefijanto, Senior Advisor Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), mengemukakan berdasarkan hasil studi Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Kemendikbud dan World Bank dan Pemerintah Belanda, kehadiran guru dalam kegiatan KKG/MGMP memiliki dampak positif terhadap kemampuan pengetahuan guru dan berdampak positif terhadap hasil belajar siswa.

Namun begitu, kata dia, keberadaan KKG/MGMP dinilai belum memperlihatkan hasil yang diharapkan karena mengandung banyak permasalahan dan kendala. Totok menyebutkan studi lain dari World Bank menemukan bahwa sedikit guru yang mengembangkan keterampilannya melalui kelompok kerja guru, misalnya, pertama tentang pengetahuan terkait materi ajar dan praktik ajar atau keterampilan mengajar terdapat hanya 50% guru yang terhimpun dalam KKG dan 45 persen guru yang tergabung dalam MGMP.

Kedua, tentang pengetahuan dan keterampilan terkait Riset Kegiatan Kelas yakni hanya 33 persen guru yang terhimpun dalam KKG dan 32% guru yang tergabung dalam MGMP. Portal berita Medan Informatif dan Terpecaya