Jakarta | rakyatmedan – Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Pilpres 2019 berlangsung keras dibandingkan pilpres terdahulu sejak era reformasi.

Hal itu disampaikan AHY saat menyampaikan pidato politiknya di Djakarta Theatre, Jumat (01/03/2019) malam.

AHY mewakili Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tak dapat hadir karena menemani istrinya di Singapura.

AHY dalam pidato yang berjudul ‘Rekomendasi Partai Demokrat untuk Presiden Indonesia Mendatang’ tersebut menilai polarisasi masyarakat di dua kubu sangat tajam. AHY menyoroti fenomena masyarakat saling menebar kebencian, fitnah, hoaks, hingga isu SARA yang makin marak.

“Pemilu memang keras, tapi tak sepatutnya menimbulkan perpecahan dan disintegrasi,” kata AHY.

Atas fenomena jelang pilpres itu, AHY menyoroti soal sistem pemilihan presiden yang membuat masyarakat tidak mempunyai pilihan.

“Peraturan presidential threshold, yaitu ambang batas 20 persen dukungan parlemen atau 25 persen suara nasional untuk mengusung capres, membatasi pilihan masyarakat atas calon pemimpin nasionalnya,” kata dia.

Demokrat, kata AHY, menilai fenomena ini jika dibiarkan berkembang makin jauh dan melampaui batas kepatutannya, khawatir kerukunan dan keutuhan sebagai bangsa akan retak.

AHY juga menyoroti penurunan kualitas demokrasi belakangan ini. AHY menyebut situasi ini tidak pernah terjadi sebelumnya ketika Demokrat berada di pemerintahan.

“Pada saat Partai Demokrat berada di pemerintahan, atau ketika menjadi ‘the ruling party’, kami bersyukur karena demokrasi, termasuk pemilu kita, makin matang dan makin berkualitas,” kata AHY.

Ketika Demokrat berada di pemerintahan, kata dia, stabilitas politik terjaga baik. Kalaupun ada riak dan dinamika, kata AHY, hal itu memang menjadi bagian dari demokrasi dan kebebasan itu sendiri.

“Perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak dibawa ke level pribadi atau personal. Kalaupun ada, jumlahnya relatif kecil dan tidak menjadi keprihatinan nasional,” kata AHY.