Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat (tengah) saat konferensi pers pemalsuan materai di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (20/3). | foto: ist
Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat (tengah) saat konferensi pers pemalsuan materai di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (20/3). | foto: ist

Jakarta | rakyatmedan – Anggota Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Metro Jaya menangkap sembilan tersangka kasus pemalsuan materai.

Kesembilan orang berinisial ASR, DK, SS, ZUL, RH, SF, DA dan R tersebut ditangkap di lokasi dan waktu berbeda.

“Pengungkapan ini membutuhkan waktu empat bulan. Jadi dimulai pada Oktober (2018) lalu,” kata Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (20/03/2019).

Kasus ini awalnya dilaporkan oleh Ditjen Pajak pada 25 Oktober 2018. Sebuah komplotan pembuat dan pengedar materai palsu beraksi dengan cara memasarkan materai palsu buatannya ke situs jual beli online.

“Nilai jual yang ditawarkan Rp2,2 juta permaterai di mana nilai asli Rp6.000. Daerah operasi mereka (daerah pembuatan materai palsu) Jakarta Timur dan Bekasi. Distribusi hasil ini se-Indonesia,” ungkap Wahyu.

Tersangka ASR dan DK ditangkap di Bekasi dan berperan menyablon dan menjual materai palsu melalui online.

Tersangka SS ditangkap di Depok dan berperan menyediakan bahan baku pembuatan materai palsu dan mencarikan percetakan.

“Tersangka ZUL dan RH ditangkap di daerah Jakarta Timur dan berperan mencetak materai palsu menggunakan mesin offset,” kata Wahyu.

Selanjutnya, di tempat yang sama polisi menangkap SF sebagai pembuat hologram dan DA sebagai kurir. Kemudian polisi kembali menangkap R di tempat yang sama yang tugasnya melubangi materai.

“Barang bukti yang kita dapatkan materai yang sudah jadi ada, setengah jadi, ada bahan, ada mesin, ada buku rekening. Barbuk senilai Rp10 miliar kira-kira,” kata Wahyu.

Wahyu mengatakan polisi juga mengamankan satu buah mesin cetak. Namun sampai saat ini polisi masih menyelidiki kepemilikan dari mesin cetak tersebut.

Komplotan ini menjual materai dengan harga yang jauh lebih murah dari harga asli agar masyarakat tertarik untuk membeli secara online. Para pelaku ini sudah beraksi sejak tahun 2018 lalu.

“Untuk materai ini pembuatanya hampir sempurna karena untuk sablon itu orangnya sendiri, yang cetak orangnya sendiri. Kalau kasat mata ini nggak terlihat jadi harus hati-hati, memang membedakan agak sulit tapi dilihat dari nilai dari Rp6 ribu dijual Rp2 ribu kita patut menduga ini,” ujarnya.

Menurut Wahyu, penjualan materai palsu tersebut telah merugikan negara sebesar Rp30 miliar. Sementara total materai yang berhasil disita polisi seharga Rp10 miliar.

Atas perbuatanya, para tersangka dikenakan Pasal 257 UU Nomor 13/1985 tentang bea materai. Para tersangka terancam hukuman tujuh tahun penjara.