Beijing  | rakyatmedan – Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern akan berkunjung ke China pada Senin dan Selasa (1-2/4/2019) untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Ardern diperkirakan akan membahas isu ekonomi menyusul menghangatnya isu perang dagang antara Barat dengan China.

Namun kunjungan Ardern tersebut diharapkan juga menyinggung isu penahanan sekitar 1 juta muslim di Xinjiang.

Organisasi HAM internasional Human Right Wacth (HRW) menilai Ardern punya peran besar pascapenembakan dua masjid di Christchurch yang menewaskan 50 orang.

Menurut HRW, sebagaimana dikutip dari Assodiated Press, Sabtu (30/03/2019), Ardern dengan berani membela muslim yang menjadi korban, bukan hanya karena penembakan, tapi kalangan muslim juga telah menjadi sasaran ketidakadilan oleh kelompok supremasi kulit putih.

HRW berharap sikap tegas Ardern itu juga dilakukan untuk membela muslim Uighur yang ditahan di kamp-kamp ‘pencucian otak’ Pemerintah China.

Ardern harus secara terbuka kepada para pejabat China untuk menutup kamp, ??mengakhiri pelanggaran, dan mengizinkan tim penyelidik independen serta pengamat internasional untuk masuk ke Xinjiang.

Sekitar 1 juta muslim China, mayoritas etnis Uighur, ditahan tanpa tuduhan di kamp-kamp yang dklaim sebagai tempat pendidikan. Kelompok muslim lainnya, termasuk etnis Kazakh dan Hui, juga ada yang ditahan dan mengalami bentuk penindasan lainnya.

Mantan tahanan menggambarkan kamp tersebut sebagai tempat pelecehan fisik dan mereka dipaksa untuk murtad. Para tahanan dipaksa memakan daging babi serta meninggalkan salat.

China menyangkal adanya kamp-kamp penahanan, melainkan menyebutnya sebagai kampus atau pusat pelatihan sukarela yang menyediakan keterampilan kerja untuk menangkal ekstremisme agama.

Mereka juga menolak seruan digelarnya penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran HAM. (rm/in)