Menag: Wawasan Luas Jadi Bekal Generasi Muda Bangun Bangsa

229582

Bandung | rakyatmedan – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku optimis terhadap bangsa Indonesia, karena adanya bonus demografi dengan keberagaman yang luar biasa.

Menurutnya, generasi muda merupakan aset dan kunci utama terhadap kemajuan bangsa. Untuk itu generasi muda perlu dibekali dengan wawasan yang luas agar dapat menebarkan nilai-nilai positif untuk membangun bangsa, bukan sebaliknya.

Hal ini disampaikan Menag saat mengisi talkshow bertema “Perbedaan itu Aset dan Asik”, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (04/04/2019).

Talkshow ini merupakan bagian dari kegiatan #TheFutureisHere yang diselenggarakan oleh Lumina Kaya Indonesia berkerja sama dengan Kemendikbud RI dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi influencer nasional sekaligus tempat diskusi antara tokoh dengan influencer muda.

Menag yang tampil satu panggung bersama dua komika sekaligus influencer muda Indonesia Ernest Prakasa dan Arie Kriting menyampaikan pentingnya nilai-nilai toleransi untuk dimiliki generasi muda. Utamanya terkait sikap toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman.

Menag menyampaikan, jati diri bangsa Indonesia adalah keberagaman itu sendiri.

“Jika mengingkari keragaman sesungguhnya bukan saja mengingkari ke-Indonesiaan, tapi juga mengingkari takdir Tuhan. Karena pada dasarnya, perbedaan yang ada merupakan kehendakNya,” tutur Menag kepada ratusan anak muda yang menghadiri talkshow tersebut.

“Kenapa harus beragam? Manusia adalah makhluk yang terbatas. Sehebat apapun manusia, pasti memiliki keterbatasan, tidak ada yg sempurna. Maka Tuhan menciptakan kita beragam, bisa saling melengkapi, saling mengisi, saling menyempurnakan satu dengan yang lain, karena kita saling terbatas” kata Menag.

Senada dengan Menag, Ernest Prakasa pun menyatakan bahwa sebagai pelaku industri kreatif, keberagaman merupakan aset besar. Komika yang juga menggeluti peran sebagai sutradara film ini mengaku karya-karya filmnya sengaja dimainkan oleh berbagai karakter dan tokoh dengan keberagaman yang menonjol. Seperti warna kulit, bentuk fisik yang menunjukkan ras yang berbeda-beda, dan lain sebagainya.

“Dalam tatanan yang lebih serius, kekayaan beragam ini dapat membanggakan hingga kancah internasional, karena tidak semua bangsa memiliki keberagaman seperti bangsa Indonesia. Dan ini bukan saja di bidang perfilman, tetapi juga di sub sektor bidang-bidang lainnya” ucap Ernest.

Selain itu, Menag juga menyampaikan keyakinan akan Tuhan perlu dilandasi dengan rasa. Sehingga muncul toleransi dan sikap tenggang rasa agar mau menerima perbedaan lain dan kemauan untuk ikut merasakan perbedaan pada diri orang lain.

“Sehingga kemudian kita bisa masuk ke dalam perspektif, yaitu untuk kemanusiaan,” imbuh Menag.

Terkait perbedaan, Menag mengingatkan agar agama senantiasa tidak hanya dilihat dari keragamannya saja.

“Sering kali hanya dikedepankan perbedaan yang sudah menjadi takdirnya berbeda. Namun seharusnya juga melihat dari esensi atau substansi ajarannya,”pesan Menag.

“Menegakkan keadilan, persamaaan di depan hukum, pemenuhan hak-hak manusia, semua agama mengajarkan itu semua, tidak ada agama yang mengajarkan ketidakadilan. Nilai-nilai universal itu lah yang harus dilihat” sambung Menag.

Menurutnya, di tengah masyarakat yang heterogen, sering kali kita terjebak melihat agama dari sisi luar sehingga yang terjadi kita mengedepankan dan membesar-besarkan keragaman yang sunatullah.

“Semua agama berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, karena agama itu untuk manusia,” ucap Menag.

Terakhir dalam pernyataannya, Menag mengembalikan pertanyaan ke peserta talkshow saat itu, mengenai apakah perbedaan agama menyebabkan penguatan relasi, saling merangkul satu sama lain antar agama atau malah agama yang semakin membuat manusia menjadi berkotak-kotak, bercerai berai.

“Kalau pilihan kedua, itu bukan ajaran agama. Karakter agama itu mengayomi, merangkul, menyatukan kita yang beragam. Karena kita beragam lah maka harus kita dirajut demi kebersamaan itu,” tandas Menag.