Medan I rakyatmedan – Dua mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) meraih empat penghargaan
dalam ajang Internasional 22nd Moscow International Salon of Inventions and Innovative Technologies Archimedes di Moscow, Rusia, yang berlangsung 26-29 Maret 2019.

“Empat penghargaan yang kami raih itu terdiri dari tiga medali emas dan satu piala khusus,” kata Winelda Mahfud Zaidan Haris, Senin (8/4/2019) di Biro Rektor USU, Padangbulan Medan.

Selain Winelda dari Fakultas Kesokteran Gigi yang mengharumkan nama Indonesia di Negeri Beruang Merah itu juga Wahid Nurhayat dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Keduanya tergabung dalam tim Schneider USU, komunitas mahasiswa berprestasi dari beberapa fakultas di USU.

Dalam ajang tersebut, Win dan Wahid menunjukkan inovasi kampas rem yang berbahan dasar cangkang (kulit) kemiri. Produk ini diyakini lebih tahan lama untuk fungsi pengereman sepeda motor.

“Kampas rem berbahan cangkang kemiri yang kami buat ini bernama bayo secret. Ini sebuah teknologi baru, kami menggantikan komposisi utama dari kampas rem dengan cangkang kemiri,” ‎kata Winelda.

Didampingi Wakil Rektor (WR) I USU Prof Rosmayati, Wahid Nurhayat, dan dosen pembimbing Juliaster Marbun, Winelda Haris menjelaskan, kampas rem saat ini banyak terbuat dari bahan asbestos‎. Untuk melakukan riset kampas rem, dibutuhkan waktu selama tiga tahun.

Sebelumnya mereka juga sudah pernah mengikuti kompetisi sejenis di India, Malaysia, Jepang dan terakhir di Rusia.

“Berkat perjuangan kami, tiga medali emas dan satu piala khusus dari Pemerintah Rusia kami persembahan untuk USU, sekaligus untuk Indonesia,” ucap mahasiswa FKG stambuk 2015 ini.

Haris mengungkapkan bahwa hasil dari kompetisi ini, mereka menerima investasi berupa dana untuk melanjutkan penelitian tersebut. Nantinya kampas rem tersebut akan memiliki hak paten dan diproduksi secara massal.

‎”Ada negara mau membeli lisensi dan hak paten ini, tapi kami tolak. Karena kami mau karya kami ini diproduksi oleh USU,” ungkapnya.

Haris menjelaskan bahwa kampas rem karya mereka lebih tahan dibanding kampas rem dari bahan asbestos. Mereka sudah melakukan pengujian mampu bertahan delapan hingga 12 bulan. Dengan harga Rp 35.000, mereka akan mengambil segmen pemasaran di Indonesia.

“Selain di Indonesia, kami juga akan pasarkan di Arab Saudi dan Thailand yang juga tertarik dengan inovasi yang kami ciptakan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Wahid Nurhayat mengucapkan terima kasih kepada Rektor USU Prof Runtung Sitepu dan jajarannya, Pemerintah Indonesia dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Rusia dan seluruh masyarakat Indonesia yang telah mendoakan tim meraih keberhasilan di Rusia.

Sementara itu Juliaster Marbun yang merupakan pembimbing mereka mengatakan, prestasi ini tidak lepas dari kerja mahasiswanya dalam mengharumkan nama USU di tingkat internasional.

Untuk produksi kampas rem, menurutnya tidak akan kendala dengan bahan baku yang ada di Sumatera Utara mengingat Sumut adalah salah satu provinsi penghasil kemiri di Indonesia.

“Saya sudah melakukan pengecekan langsung dari 33 kabupaten/kota di Sumut, 21 daerah memiliki perkebunan kemiri dan panen dilakukan secara bertahap. Jadinya bisa diproduksi secara massal,” jelasnya.

Sedangkan Wakil Rektor I USU Prof Rosmayati menyatakan rasa bangga atas prestasi yang diraih mahasiswanya. Menurutnya bonus segera akan diberikan pihak rektorat kepada tim USU tersebutdalam waktu dekat.

Disebutkannya USU tertarik dengan kampas rem yang mereka ciptakan tersebut. Namun untuk diproduksi secara massal akan kembali dibicarakan bersama rektorat USU.

” Pada intinya, inovasi tersebut banyak pihak tertarik. Namun jangan sampai dijual inovasi kita itu. Pastinya akan diproduksi secara massal, dan untuk itu USU telah mendirikan perusahaan bernama PT PAS,” ujarnya. (rm -04)