Medan I rakyatmedan – Pada era revolusi industri 4.0 ini masyarakat semakin sulit melepaskan diri dari teknologi informasi (TI).

“Digitalisasi kini sudah menjadi keseharian dan ke depan trennya akan semakin meningkat,” kata Rektor Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia Dr Ivan Elisabeth Purba MKes dalam kuliah pakar bertajuk Menang Saing dengan Produk Kreatif UMKM Domestik pada Era Revolusi Industri 4.0 di Ign Washington Purba Hall, kampus Jalan Kapten Muslim Medan, Selasa (9/4/2019).

Menurutnya dunia usaha termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

“Perubahan ini menuntut kita agar mampu bersaing dan memenangkan persaingan. Human atau pekerja digantikan oleh robot atau teknologi. Untuk mengantisipasinya harus disikapi dengan cerdas,” kata Ivan

Dalam Kuliah Pakar itu, USM Indonesia mengundang Kepala Badan POM RI Dr Ir Penny K Lukito MCP diwakili Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik. Dra Rr Maya Gustina Andarini Apt. MSc.

Turut hadir Ketua Yayasan Sari Mutiara yang juga Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba SH MM, dan pengusaha produk lokal andaliman kebanggaan Sumut.

Ivan menegaskan, produk-produk UMKM harus bisa go internasional. Menurutnya, UMKM sebagai bagian dari global community jangan jadi objek kemajuan zaman, melainkan harus bisa aktif disitu.

“Pelaku UMKM harus menjadi insan yang siap memenangkan daya saing,” ujarnya.

Untuk itu diperlukan penguatan motivasi agar unggul, berkarakter dan berdaya saing sesuai visi misi universitas.

Dijelaskannya, era industri yang dikenal dengan revolusi industri 4.0 ini bisa dilihat pada teknologi sangat berkembang dengan cepat yang merasuk ke dalam kehidupan. Untuk itu, kata Ivan, dituntut inovasi dan kreatifitas agar bisa bertahan.

Diakuinya, ada keinginan dari universitas untuk mengangkat produk-produk lokal supaya go public.

“Kami terus berupaya membantu meningkatkan kemampuan dan kreatifitas UMKM, sehingga dapat bersaing, bahkan hingga ke ranah global,” tuturnya.

Sedangkan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik. Dra Rr Maya Gustina Andarini Apt. MSc memaparkan peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) di era revolusi industri.

Andarini menyebutkan, Badan POM melakukan pelayanan publik dan pemerintahan dengan berbasis IT. Badan POM juga memberikan dukungan pengembangan industri obat dan makanan serta keberpihakan kepada UMKM.

Dia menyoroti perkembangan e-commerce cukup pesat. Ini dapat dilihat ketika seseorang menjual produknya lewat media sosial akan lebih cepat laku.

“Ini juga tantangan bagi pengawasan Badan POM, karena belum tentu produk yang dijual itu sesuai standar,” ujarnya.

Badan POM mengakui pemerintah wajib melakukan pendampingan terhadap produk-produk seperti itu.

Terkait produk herbal, dia menilai Indonesia kurang memberdayakannya. Padahal, saat ini Thailand sedang gencar-gencarnya membuat produk herbal.

“Dibandingkan Thailand, kita lebih kaya akan herbal,” ujarnya seraya menyebutkan Negeri Ginseng itu pun kini terkenal akan produk kosmetiknya.

Dia meyakini Indonesia bisa berbuat seperti itu. Namun diharapkannya jangan menjadi follower (pengikut), melainkan harus kreatif supaya bisa menang di era global ini.

Upaya kreatif itu bisa dilakukan dengan membuat jamu tetap berkesinambungan ada di Indonesia. Caranya, buat kafe jamu seperti coffee shop yang memiliki fasilitas wifi. Jadi generasi milenial pun akan lebih kenal jamu dengan cara modern.

Menurutnya, cara itu sebagai upaya menjadikan jamu jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Selain jamu, Badan POM juga berkeinginan obat herbal jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Untuk itu Badan POM menginisiasi pembentukan panitia pengkajian kepatuhan industri farmasi dalam rangka rekomendasi pemilihan obat JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

Hasil kajian kepatuhan industri farmasi menjadi rekomendasi untuk pilihan obat JKN. Sayangnya, itu tidak termasuk obat herbal. ( rm-04)