Caracas | rakyatmedan  – Sedikitnya tujuh perwira militer Venezuela tewas ketika helikopter yang mereka tumpangi jatuh saat menuju sebuah akademi militer, di mana Presiden Nicolas Maduro muncul bersama pasukan yang loyal kepadanya.

Helikopter Cougar jatuh di gunung di luar ibu kota Caracas pada Sabtu (04/05) dini hari. Saat ini investigasi untuk mencari penyebab kecelakaan masih dilakukan.

Angkatan bersenjata Venezuela menyatakan helikopter itu menuju ke San Carlos di negara bagian Cojedes. Lokasi itu dekat akademi militer tempat Maduro muncul pada Sabtu pagi untuk mengawasi latihan setelah satu pekan intrik yang membuat sekelompok kecil pasukan keamanan berbalik melawannya dalam upaya kudeta yang gagal oleh pemimpin oposisi Juan Guaido untuk menggulingkan pemerintah.

Dilaporkan The Washington Post, Minggu (05/05/2019), di atas helikopter itu ada dua letnan kolonel dan juga lima perwira berpangkat rendah. Pernyataan itu tidak mengatakan apakah helikopter itu bagian dari delegasi presiden.

Militer Venezuela memiliki perang penting dalam krisis politik yang melanda negara itu. Peran itu ditunjukkan ketika Maduro berusaha menggambarkan kekuatan dengan bergabung bersama pasukan di akademi militer.

Di sisi lain, tokoh oposisi Juan Guaido berusaha merayu pasukan bersenjata agar mau membelot dengan mendesak para pendukungnya ke jalan-jalan.

Televisi nasional menunjukkan Maduro mengenakan topi ketika dia berjabat tangan dan melakukan tos dengan pasukan keamanan saat kunjungan ke pangkalan militer sebelum menyaksikan pasukan terlibat dalam latihan menembak.

“Setia selamanya,” seru Maduro, kepada kerumunan taruna tentara berseragam hijau.

Sementara itu, Guaido mengatakan kepada para pendukungnya untuk pergi ke garnisun militer guna membujuk pasukan agar berbalik melawan Maduro, yang tahun-tahun jabatannya ditandai dengan meningkatnya kesulitan bagi kebanyakan orang di negara yang dulunya salah satu yang terkaya di Amerika Latin.

Lebih dari tiga juta rakyat Venezuela meninggalkan negara itu akibat kondisi ekonomi yang menyusut, hiperinflasi, dan kekurangan kebutuhan seperti obat-obatan.

Pihak oposisi menyalahkan krisis ekonomi pada korupsi negara, salah kelola, dan otoriterisme serta kepemimpinan Maduro yang kembali terpilih dalam pemilu tahun lalu yang dianggap tidak sah. (rm/in)