Medan I rakyatmedan – Tingginya harga cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar di Sumatera Utara (Sumut) yang pada Juni 2019 ini mencapai 1,63 persen.

“Kenaikan harga cabai merah itu terjadi saat jelang Lebaran hingga saat ini sehingga Sumut sedang mengalami tekanan inflasi yang tinggi,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat pada bincang-bincang bersama media di Medan, Senin (08/07/2019)

Disebutkannya, saat ini  year to date (ytd) Juni 2019 Inflasi Sumut mencapai 4,30%. Angka tersebut mendekati batas atas inflasi nasional 4,5%.

Kondisi mahalnya harga cabai merah itu disebabkan keterbatasan pasokan dari daerah sehingga permintaan tinggi karena produksi tidak mencukupi.

Diakuinya berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah (Pemda) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut dalam mengendalikan inflasi tersebut.

Untuk mengendalikan inflasi itu kata Wiwiek pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya dan solusi dengan mencari berbagai terobosan antara lain dibutuhkan database yang lengkap, seperti bagaimana memproduksinya yang dilakukan tidak bersamaan.

Selain itu yang juga diperhatikan tentang peredaran cabai merah,  bagaimana pembentukan harga di tingkat petani, pedagang besar, pedagang eceran. Dengan demikian pemerintah daerah bisa masuk secara lebih spesifik.

Upaya lainnya yang dilakukan, ungkap Wiwiek adalah diperlukan adanya anggaran dari Pemda yang sewaktu-waktu jika dilakukan operasi pasar. Sebab untuk kegiatan itu harus ada pihak yang menanggung kerugian dengan memberikan subsidi dari harga yang tinggi untuk dijual dengn harga lebih murah dari pasar.

Solusi lainnya untuk jangka panjang dengan meminta kepada petani, agar tidak menjual langsung ke masyarakat dengan menampung hasil produksi petani  di lembaga atau institusi yang mampu mempertahankan kualitas cabai untuk jangka lebih panjang 3-4 bulan. Jadi pada saat produksinya tinggi, bisa disimpan kemudian dijual pada waktu saat produksi menipis.

Wiwiek juga menyebutkan salah satu point penting lainnya untuk mengantisipasi inflasi itu adalah dengan melakukan kerjasama antar daerah. Sebab Pemda kabupaten dan kota bisa mempengaruhi dan memsupport kepada petani agar bisa menjual kepada sesama daerahnya.

Salah satu daerah yang telah meakukan  kerjasama itu adalah Humbahas yang produksi cabainya tinggi dengan Tebingtinggi.

Wiwiek juga menyebutkan hampir sebagian besar kebutuhan cabai, dikonsumsi di Kota Medan sehingga inflasi di Sumut 82% berasal dari Kota Medan dan Pematangsiantar 10%, Sibolga 3%, Padangsidimpuan 5 %.

“Dengan demikian jika iingin mengendalikan inflasi di Sumut, maka kendalikan inflasi di Medan,” ungkapnya.

Wiwiek juga menambahkan, selain cabai merah, komo￾ditas penyumbang inflasi Sumut lainnya juga cabai rawit, bawang merah dan bawang putih termasuk juga masalah transportasi yang mahal menjadi menyumbang besaran inflasi.  (rm-04)