Jakarta | rakyatmedan – Kementerian Perindustrian fokus mendorong kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan (litbangyasa) yang dapat memacu produktivitas dan daya saing industri nasional. Hal ini diwujudkan melalui peran dan pelayanan teknis di balai-balai lingkungan Kemenperin, yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri saat ini, antara lain menggenjot ekspor dan substitusi impor, serta meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

“Pemerintah terus mendorong terciptanya inovasi agar industri nasional dapat terus maju dan berdaya saing global. Langkah strategis ini sesuai program prioritas yang ada di dalam roadmap Making Indonesia 4.0,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Jumat (09/08/2019).

Pada peta jalan implementasi industri 4.0 di Indonesia tersebut, inovasi memainkan peranan yang sangat penting. Bahkan salah satu aspirasi yang ingin dicapai adalah meningkatnya kegiatan litbang di dalam negeri, yang diharapkan didukung dengan porsi anggaran litbang yang proporsional, minimal 2% dari total anggaran nasional.

“Semakin meningkatnya peranan inovasi litbang diharapkan membantu mewujudkan misi Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030, yang ditandai dengan meningkatnya kontribusi net ekspor sektor industri sebesar 10% terhadap PDB dan peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat,” papar Ngakan.

Guna mencapai inovasi, diperlukan pemanfaatan teknologi terkini. Misalnya, yang sedang berkembang seiring bergulirnya industri 4.0, antara lain teknologi berupa artificial intelligence (AI), advanced robotic, internet of things (IoT), 3D Printing, dan Augmented Reality/Virtual Reality (AR/VR).

“Kita harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi-teknologi tersebut sebagai momentum bahwa transformasi strategis ini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, namun bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemajuan industri nasional dan kemakmuran bangsa, sehingga tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Ngakan.

Oleh karena itu, pemerintah telah menetapkan lima sektor manufaktur yang mendapatkan prioritas pengembangan agar siap memasuki era industri 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri kimia, industri otomotif, serta industri elektronika.

“Selama ini, lima sektor industri itu mampu memberikan kontribusi sebesar 60% untuk PDB, kemudian menyumbang 65% terhadap total ekspor, dan 60% tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dalam mendukung implementasi industri 4.0 di Indonesia, BPPI Kemenperin terus berupaya membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya inovasi-inovasi di sektor manufaktur. Contohnya, BPPI Kemenperin telah membangun tiga unit mini showcase industri 4.0, yaitu Mocaf 4.0 di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor, Vision 4.0 di Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Bandung, dan Cacao 4.0 di Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) Makassar.

“Ketiga mini showcase itu akan terus disempurnakan agar masyarakat dapat melihat secara langsung simulasi penerapan industri 4.0. Fasilitas ini juga diharapkan dapat merangsang tumbuhnya inovasi-inovasi baru,” jelasnya. Inovasi-inovasi tersebut diyakini mampu mempercepat penguasaan teknologi berbasis industri 4.0 di Indonesia sekaligus semakin meningkatkan kapasitas inovator atau peneliti nasional.