USU Bahas Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Danau Toba

115402

Medan I rakyatmedan -Untuk mewujudkan kawasan Danau Toba sebagai magnet pariwisata dunia perlu mengembangkan strategi kerjasama dengan Universitas Sumatera Utara (USU)  .

“Kita berharap pemerintah dan pemangku kebijakan di daerah ini menerapkan dan mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Sumut agar industri pariwisata berkembang dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Rektor USU melalui Warek II USU Prof Dr dr Muhammad Fidel Ganis Siregar, M Ked (OG), Sp OG (K), Jumat (13/9/2019)

Menurur Rektor USU saat membuka Diskusi Publik Pariwisata Berkelanjutan “Best Practises Sustainable Tourism: Learning from Malaysia and Italy” digelar Kelompok Kerja Pariwisata Kawasan Danau Toba dan pariwisata berkelanjutan USU (KK-PKDT dan PB USU) di ruang Senat Akademik Biro Rektor USU, forum ini merupakan pertemuan yang pantas diapresiasi tinggi karena kiprahnya dalam membangun Danau Toba dan mewujudkan kawasan tersebut

Tampil sebagai para narasumber antara lain Antonella Trombadore dari Universita Degli Studi Firenze Italy, Prof Dr Badaruddin Mohammed dari University Sains Malaysia dan Kementerian pariwisata Indonesia.

Disebutkannya melalui pokja ini USU telah berupaya menunjukkan keseriusan dan keterlibatannya baik secara akademis maupun melalui berbagai kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat dan kegiatan lainnya yang telah menunjukkan kepeduliannya bagi pengembangan kawasan Danau Toba.

“Ini memperlihatkan peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas dalam tembok kampus saja, namun mencoba menerapkan seluruh pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki bagi kebaikan masa depan pariwisata di Sumut KK-PKDT dan PB USU yang dipimpin mantan Kadis Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting sudah banyak kemajuan sejak berdirinya tiga tahun yang lalu,” tukasnya.

Salah satunya, ungkapnya, mendapatkan ratifikasi dari UNWTO sebagai pusat monitoring di kecamatan Pangururan Samosir serta kepercayaan dari World Bank untuk melakukan perluasan monitoring hingga kedelapan kabupaten di Danau Toba.

” Ini sebuah pencapaian yang harus diapresiasi dan ditindaklanjuti dengan baik. Harap saya semoga semakin banyak para peneliti, dosen dan mahasiswa melakukan pekerjaan yang telah diinisiasi oleh KK-PKDT dan PB, pada daerah-daerah lain yang memiliki potensi pariwisata untuk layak dikembangkan,” paparnya.

Mengingat, tambahnya, Sumut memiliki potensi wisata daerah yang indah namun belum digarap dan dikelola dengan baik.

Lebih lanjut dikatakannya paru diingat, pengembangan pariwisata ini tidak saja memiliki satu manfaat, namun juga membawa banyak manfaat dan kebaikan bagi banyak pihak. Negara, masyarakat, perekonomian sosial budaya, penguatan nilai-nilai kearifan lokal, pendidikan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup menjadi hal-hal yang mendapat manfaat bagi pengembangan sektor pariwisata.

Meski demikian tentu saja,ada dampak dari setiap tindakan pembangunan yang harus diwaspadai dan menjadi diskusi kita bersama.

“Saya berharap dimasa mendatang kerjasama yang terjalin antara USU dengan seluruh pihak yang berperan pada sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan danau toba saja namun juga meraba pada pengelolaan kawasan wisata lainnya agar dapat berjalan denga baik,” ungakapnya.

Sementara itu, Ketua Pokja PKDT&PB Ir Nurlisa Ginting, M Sc, Ph D, mengatakan, penelitian Bank Dunia menyebutkan pariwisata berkelanjutan di Danau Toba harus menjadi perhatian. Di antaranya, pengelolaan limbah cair dan limbah padat, pengelolaan dan kualitas air dan keberagaman produk pariwisata, krisis air bersih dan karakter masyarakat yang selama ini sulit diatasi.

Menurutnya, pengembangan pariwisata berkelanjutan di daerah ini sangat penting tidak hanya di danau toba dan daerah lokasi wisata di daerah lainnya untuk menyedot kedatangan para wisatawan baik lokal maupun mancanegara di Sumut.

Saat ini, ungkapnya kawasan wisata tangkahan sedang melakukan pengembangan wisata berkelanjutan ini (sustainable tourism) yang melibatkan banyak pihak tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat dan pengusaha di objek wisata tersebut.

 

“Kita berharap daerah-daerah lainnya juga segera menerapkan konsep wisata berkelanjutan ini,” paparnya.

Sementara Prof Badaruddin Mohammed memaparkan, tahun 2020 menargetkan 30 juta orang wisatawan menjadi sasaran di Visit Malaysia Year 2020. Pariwisata adalah sektor kedua yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. (rm-04)

Keterangan foto

SEEAHKAN CINDERAMATA

Wakil Rektor II USU Prof Dr Muhammad Fidel Ganis Siregar dan narasumber saat menyerahkan cinderamata kepada narasumber pada Diskusi Publik Pariwisata Berkelanjutan “Best Practises in Sustainable Tourism : Learning From Malaysia and Italy” di Lt 3 BPA USU.