2020 Pengangguran Terbuka di Sumut masih Tinggi

72489

Medan I rakyatmedan -Pada 2020 tingkat pengangguran terbuka masih menjadi salahsatu dari lima tantangan perekonomian di Sumatera Utara (Sumut).

“Di tengah optimisme prospek kinerja ekonomi Sumut pada tahun depan, ternyata tingkat pengangguran masih tinggi,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat pada pertemuan tahunan Bank Indonesia 2019 di Adi Mulia Hotel Medan, Rabu (04/12/2019).

Disebutkannya, sampai dengan pertengahan 2019 Sumut masih menjadi salah satu provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi dibandingkan provinsi lain.

Karenanya kata Wiwiek, peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan untuk mengatasi masalah pengangguran tersebut

Pada pertemuan bertema “Sinergi, Transformasi, Inovasi” itu Wiwiek juga menyebutkan empat tantangan lainnya yang masih perlu mendapat perhatian dari seluruh pemangku kepentingan di daerah ini.

Keempat tantangan itu yakni masih besarnya ketergantungan terhadap ekspor terkait komoditas perkebunan dan gejala berkurangnya kontribusi lapangan usaha industri pengolahan kepada perekomian.

Dia melihat, di tengah potensi sumber daya alam yang cukup beragam, ekspor Sumut ke pasar luar negeri masih sangat didominasi produk CPO dan karet olahan.

Tantangan berikutnya adalah belum optimalnya efisiensi investasi dan masih rendahnya daya saing Sumut dibandingkan daerah lain.

“Lemahnya daya saing pada gilirannya dapat semakin menghambat upaya untuk memperbaiki investasi karena investor akan cenderung memilih daerah dengan daya saing yang lebih baik,” ujarnya.

Tantangan keempat yaitu masih terbatasnya kemampuan fiskal serta adanya tendensi backloading dan prosiklikalitas pada pola realisasi belanja daerah

“Risiko tergerusnya daya beli masyarakat seiring dengan fluktuasi inflasi, khususnya inflasi kelompok bahan makanan (pangan) menjadi tantangan kelima pada pertumbuhan ekonomi Sumut 2020,” beber Wiwiek.

Diungkapkannya, lebih besarnya kenaikan inflasi dibandingkan dengan pendapatan masyarakat akan berdampak pada semakin buruknya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, berbagai tantangan tersebut dapat menjadi faktor penahan dalam upaya mendorong dan mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi.

Pada pertemuan itu juga dihadiri Gubsu Edy Rahmayadi, para pimpinan BUMN, stakeholder, tokoh agama, pimpinan akademisi dan lainnya.

Untuk mengakselerasi perekonomian transformasi, kata Gubsu perlu dilakukan pada sumber pertumbuhanny.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan dapat diraih melalui transformasi ekonomi dari sumber daya alam ke manufaktur, dan transformasi birokrasi untuk mendorong investasi serta lapangan kerja.

Kemudian, transformasi fiskal, dan transformasi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Wiwiek juga menilai, sinergi dalam inovasi digital perlu dilakukan guna mendukung integrasi ekonomi dan keuanhan digital sebagaimana arah nasional.

“Kami akan mendorong terbangunnya ekosistem dari e-commerce dan fintech agar mampu mempercepat inklusi ekonomi dan keuangan sebagai daya dukung ekonomi Indonesia kedepan,” pungkasnya. (rm-04)