: Rektor USU Prof Dr Runtung Sitepu didampingi Prof Gontar Siregar foto bersama usai menyerahkan cinderamata kepada para nara sumber seminar nasional Selat Malaka di USU Medan
: Rektor USU Prof Dr Runtung Sitepu didampingi Prof Gontar Siregar foto bersama usai menyerahkan cinderamata kepada para nara sumber seminar nasional Selat Malaka di USU Medan

Medan I rakyatmedan-Selat Malaka merupakan salah satu selat terpenting di dunia dan memiliki asset potensial yang banyak dilirik berbagai negara.

“Namun sangat disayangkan potensi Selat Malaka yang demikian besar belum seutuhnya digarap dengan baik dan dimanfaatkan optimal, baik untuk kepentingan eksternal maupun internal,” kata Rektor USU Prof Runtung Sitepu, Jumat (13/12/2019)

Menurut Rektor saat membuka seminar nasional Selat Malaka :Perspektif hukum, ekonomi, sosial dan politik di ruang Senat Akademik USU, Rabu (11/12/2019), keberadaan Selat Malaka dengan posisi strategis itu karena langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.

Selain itu juga mempunyai sambungan strategis ke Laut Pasifik, sehingga selat ini menjadi jalur perdagangan dan bisnis terpadat ke dua setelah Selat Hormuz di Timur Tengah.

Dengan posisi strategis itu, maka kata rektor Indonesia harus senantiasa siaga dan perlu dikawal dengan baik terhadap segala hal yang mengancam keberadaannya sebagai bagian dari wilayah negara ini.

Karena itu Rektor mengapresiasi serta menyambut baik diadakannya seminar nasional membahas tentang kepentingan dan masa depan Indonesia di kawasan Selat Malaka.

Dengan seminar ini kata rektor diharapkan mampu merumuskan dan memanfaatkan segala peluang yang ada serta memberikan solusi terbaik terhadap indikasi yang mengancam sendi-sendi kehidupan bernegara dan berbangsa.

Dikatakannya, seminar nasional ini bukanlah kali pertama bagi Universitas Sumatera Utara (USU) dalam memfasilitasi pertemuan yang fokus membahas serta mendiskusikan potensi Selat Malaka, berikut peran Indonesia di dalamnya.

Dengan digelarnya seminar ini, lanjut rektor diharapkan terjadi penguatan isu-isu strategis yang dapat direkomendasikan kepada pemerintah, maupun dijalankan oleh kelompok-kelompok studi dan pusat kajian Selat Malaka terkait dengan tujuan untuk mengubah kondisi stagnan yang ada di kawasan tersebut.

“Kita juga berharap, agar nantinya seluruh rekomendasi dari diskusi dapat diadopsi dalam berbagai kebijakan dan perencanaan pembangunan wilayah Sumut yang berhadapan langsung dengan kawasan Selat Malaka,” kata rektor.

Turut menyampaikan sambutan Ketua Dewan Guru Besar USU Prof Dr dr Gontar Alamsyah Siregar.

Tampil sebagai narasumber seminar itu, Prof Hikmahanto Juwana (Guru Besar Universitas Indonesia), Prof Ediwarman SH MHum (Guru Besar FH USU),Prof Dr Sirojuzilam SE (Guru Besar FE USU) dan Prof Subhilhar PhD (Guru Besar Fisipol USU)

Sementara itu Guru Besar UI Prof Hikmahanto Juwana mengatakan pentingnya Sekat Malaka bagi pelayaran internasional karena keberadaan selat ini sejak abad ke 17 merupakan salahsatu rute perdagangan di dunia.

” Hingga saat ini rata- rata kapal yang melewati Selat Malaka sekitar 6000 sampai 94.000per tahun membawa satu pertiga perdagangan dunia,” kata Hikmahanto.

Sedangkan Guru Besar Fisipol USU Prof Subhilhar PhD menyebutkan posisi Indonesia yang berada di tengah-tengah jalur laut transportasi internasional, membuat jalur laut di Selat Malaka rawan potensi konflik.

Disebutkannya di tengah krisis global saat ini, berbagai negara berlomba-lomba menguasai akses ekonomi, khususnya energi.

Bahkan Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS) mengingatkan, Selat Malaka merupakan jalur terpadat di dunia.

“Selat ini menjadi urat nadi lalu lintas transportasi minyak bumi sebesar 9,4 juta barrel yang menghidupi perekonomian dunia,” kata Subhilhar.

Disebutkan Subhilhar, pemanfaatan Selat Malaka dan penguasaan pengelolaan jalur udara telah menunjukkan Indonesi telah dikalahkan Singapura, kapal-kapal Tunda Singapura sekitar 90% telah menguasai Selat Malaka, sisanya dikuasai Malaysia.

Menurut Subhilhar Indonesia hanya menjadi penonton dari kisah sukses pemanfaatan Selat Malaka.

“Kapabilitas dan kapasitas kita secara umum untuk mengontrol Selat Malaka sangat diragukan. Persoalannya adalah tingkat kemandirian kita secara ekonomi politik masih belum cukup kuat, sehingga kebijakan kita menjadi lunak terhadap aktivitas asing di Selat Malaka,” ujarnya.

Kondisi ini seperti dalam taraf wait and see belum sampai kepada inisiatif dan tindakan yang menunjukkan eksistensi sebagai bangsa yang kuat dan memiliki kontrol yang baik terhadap Selat Malaka.

Makanya Indonesia harus memainkan peran diplomasi lebih baik lagi dengan memanfaatkan pertarungan penguasaan sphere of influence antara Cina dan pihak Barat, khususnya Amerika Serikat untuk menyeimbangkan kekuasaan (balance of power) di kawasan ini.

Keseimbangan kekuasaan akan menjadi hambatan bagi pihak-pihak yang akan melakukan tindakan awal untuk merusak stabilitas karena akan segera memperoleh balasan dari kekuatan lain yang juga hadir dalam kawasan itu.

Inisiatif balance of power yang juga dikembangkan menjadi balance of deterrence melalui diplomasi akan juga dapat menjaga deklarasi Kuala Lumpur untuk mempertahankan ZOPFAN ((Zone of Peace Freedom and Neutrality), sehingga stabilitas kawasan terjaga dan keamanan nasional akan tercipta. ( rm-04)