LLDikti Sumut: Unpab Mutiara Tak Lekang Oleh Waktu

173467

Medan I rakyatmedan-Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I Sumatera Utara (Sumut) Prof Dian Armanto menyebut Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab) tua-tua keladi, yaitu makin tua makin menjadi.

“Kalau manusia di usia 58 sudah mulai digerogoti tanda-tanda ketuaan. Tapi beda dengan perguruan tinggi seperti Unpab: tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Mahasiswa makin banyak. Pembelajaran makin bagus dan tingkat kepercayaan masyarakat makin tinggi,” ujar Prof Dian Armanto, Jumat (27/12/2019)

Menurut Dian saat pada perayaan Milad (hari lahir) ke-58 Unpab, di Koridor Tamadun Mandiri, Kampus I Unpab, Jalan Gatot Subroto Medan, Unpab kini seperti mutiara. Semakin tua semakin berkilau.

Hadir dalam acara itu, Pembina Yayasan Profesor Haji Kadirun Yahya (pengelola Unpab) Hj Sri Hayati, Rektor Unpab Dr HM Isa Indrawan SE MM, Rektor I Ir Bhakti Alamsyah MT PhD, Rektor II Dra Hj Irma Fatmawati SH MHum, Rektor III Samrin SE MM, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Prof Dr Zainal Arifin Hasibuan, unsur forum komunikasi pimpinan daerah (FKPD) Sumut, pengurus Kadin Sumut, para dekan dan ketua prodi dan mahasiswa di lingkungan Unpab.

“Mutiara itu istimewa, semua orang suka. Permatalah satu-satunya perhiasan yang tak lekang oleh waktu. Unpab adalah sebuah mutiara yang tak lekang oleh waktu. Sehingga di usia 58 tahun Unpab makin pesat dan tak lekang di masa depan,” tandas Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed) ini.

Tentu, katanya, Unpab dibangun dari sebuah kepedihan. Seperti mutiara yang dibangun dari kerang yang dimasukkan sebutir pasir. Lalu kerang diramu sedemikian rupa dengan enzim-enzim yang ada di dalamnya, sehingga menjadi mutiara yang sangat luar biasa.

Dalam kesempatan itu, Rektor Unpab Dr HM Isa Indrawan SE MM mengatakan, pihaknya telah menggelar sejumlah kegiatan dalam rangka menyongsong milad ke-58 Unpab. Dimulai dari bazar, jalan santai, fetival tari, MTQ antarmahasiswa, pesta makin ikan gratis bersama masyarakat sebanyak satu ton di Danau Siombak Marelan.

“Kemudian, Unpab bekerjasama dengan Kadin Sumut mengolah sampah rumah tangga menjadi gas O3 dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan yang disebut ekoenzim. Hasil olahan sampah ini menghasilkan 2000 liter gas 03 yang akan dipakai untuk membersihkan Sungai Sikambing. Sebelumnya sudah dilakukan untuk membersihkan beberapa sungai di Sumut,” kata rektor.

Selain itu, kata Isa Indrawan, civitas akademika Unpab juga melakukan donor darah, khitan massal di sejumlah kecamatan di Sumut. Kemudian berbagi rezeki dengan 1.000 anak yatim dan duafa.

Kelahiran Unpab sendiri, katanya, diawali pendirian yayasan oleh Prof Dr H Kadirun Yahya pada 1956. Prof Kadirun Yahya adalah guru Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), pernah manjadi staf persenjataan perang di Bukit Tinggi, dan seorang ahli kimia dan ahli tasauf majelis zikir Tariqat Naqshabandiyah.

Kemudian pada Desember 1961 berdiri Sekolah Tinggi Metafisika berubah menjadi Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab). “Sekarang Unpab mengasuh sekitar 17 ribu mahasiswa,” kata Isa Indrawan. (rm-04 )