Medan Irakyatmedan -Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pengaruhi potensi inflasi di Indonesia.

“Apalagi ketegangan itu kini semakin tinggi setelah Iran melancarkan serangan balasannya ke AS,” kata Wiwiek usai bincang bareng media di kantor BI Jalan Balaikota Medan, Kamis (9/1/2020).

Menurut Wiwiek, kondisi ini dikhawatirkan mempengaruhi perekonomian Indonesia termasuk di Sumut bahkan bisa mengganggu ekspor Indonesia.

“Seperti diketahui negara-negara tujuan ekspor kita salahsatunya adalah AS dan China juga semua negara Timur Tengah. Jika terjadi perang maka negara itu akan berpengaruh. Jadi dengan sendirinya juga bakal berimbas dan mempengaruhi ekspor Indonesia,” ungkap Wiwiek.

Wiwiek juga menyikapi adanya kenaikan harga emas yang melonjak cukup tajam. Menurutnya emas adalah instrumen investasi yang paling aman dan hampir tidak pernah turun malah cenderung naik meskipun tidak signifikan. Sedangkan deposito dan sebagainya nilainya tidak stabil.

Jadi kalau terjadi perang, kata Wiwiek tidak heran harga emas itu naiknya bisa cepat. Sekarang saja diperoleh informasi sudah hampir mencapai Rp 800 ribu lebih per gramnya yang sebelumnya berkisar Rp 700 ribuan.

“Kenaikan itu terjadi karena mereka mengalihkan investasinya dari obligasi dan deposito maupun saham ke emas,” kata Wiwiek.

Wiwiek memprediksi jika perang terus meluas, tidak tertutup kemungkinan harga emas bisa mencapai Rp 1 juta per gramnya. ( rm -04)