Dampak Corona, Impor Sumut Maret 2020 Turun 18,77 Persen

65656

Medan I rakyatmedan-Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi mengatakan pada Maret 2020 nilai impor mengalami penurunan sebesar 18,77 persen.

“Penurunan ini sebelumnya juga terjadi pada Februari atas dasar CIF (Cost Insurance, Freight) sebesar US$ 317,88 juta atau turun 18,77 persen,” kata Syech Suhaimi, Jumat (3/4/2020)

Disebutkan, penyebab penurunan salahsatu di antaranya terjadi karena merebaknya virus corona (Covid 19).

Suhaimi menyebutkan, jika di banding pada Januari 2020 dengan capaian sebesar US$391,34 juta.

Tapi kalau dilihat lagi persentasenya di bulan yang sama tahun sebelumnya nilai impor mengalami kenaikan sebesar 7,07 persen.

Nilai impor menurut golongan penggunaan barang di Februari 2020 dibanding pada Januari 2020, barang modal turun sebesar 54,93 persen, bahan baku/penolong turun sebesar 9,64 persen dan barang konsumsi turun sebesar 27,77 persen.

Pada Februari 2020, katanya golongan barang yang mengalami kenaikan nilai impor terbesar adalah bahan bakar mineral sebesar US$5,12 juta (11,41%).

Golongan barang yang mengalami penurunan nilai impor terbesar adalah mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$38,92 juta (-51,40%).

Nilai impor di Februari 2020 dari Malaysia merupakan yang terbesar yaitu US$62,24 juta dengan perannya mencapai 19,58 persen dari total impor Sumut diikuti Tiongkok sebesar US$61,45 juta (19,33%) dan Australia sebesar US$24,93 juta (7,84%), pungkas Syech

DEFLASI

Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statustik ( BPS) Sumut tercatat pada
Maret 2020, tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Utara deflasi, yaitu Sibolga sebesar 0,79 persen, Pematangsiantar sebesar 0,12 persen, Medan sebesar 0,19 persen.

Sedangkan dua kota lainnya inflasi yaitu, Padangsidimpuan sebesar 0,53 persen dan Gunung Sitoli sebesar 0,43 persen.

Dengan demikian, kata Suhaimi gabungan lima kota IHK di Sumut terjadi deflasi 0,16 persen.

Sementara itu secara nasional mengalami inflasi sebesar 0,10 persen, tahun kalender 0,75 persen dan kumulatif 2,96 persen.

Dari 90 kota IHK di Indonesia, 43 kota mengalami Inflasi, tertinggi di Lhokseumawe sebesar 0,64 persen. Sedangkan 47 IHK mengalami deflasi, tertinggi 1,91 persen.

Di Medanpada Maret 2020 deflasi 0,19 persen atau terjadi penurunan IHK dari 103,09 pada Pebruari 2020 menjadi 102,89.

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan yaitu kelompok makanan, minuman, dan
tembakau sebesar 0,63 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen; dan kelompok transportasi sebesar 0,52 persen.

Kelompok yang mengalami inflasi yaitu kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,19 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,01 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,80 persen. Sementara kelompok lainnya tidak mengalami perubahan indeks.

Ia menyebut komoditas utama penyumbang deflasi selama Maret 2020 di Medan antara lain cabai merah, minyak goreng, angkutan udara, tomat, cabai rawit, kacang panjang dan cabai hijau.

Dari 24 kota IHK di Pulau Sumatera, 14 kota tercatat deflasi. Deflasi tertinggi di Sibolga sebesar 0,79 persen dengan IHK sebesar 103,76 dan terendah di Padang dan Bengkulu sebesar 0,02 persen. (rm-04)