UISU Gelar Webinar Pelurusan Sejarah Revolusi Sosial Langkat 1946

15784
Rektor UISU Dr. H. Yanhar Jamaluddin, MAP saat memberikan sambutan dalam di webinar FGD dan tampilan para peserta dan pembicara pada webinar di UISU.
Rektor UISU Dr. H. Yanhar Jamaluddin, MAP saat memberikan sambutan dalam di webinar FGD dan tampilan para peserta dan pembicara pada webinar di uisu

Medan I rakyatmedan– Rekontruksi peristiwa kelam di Kabupaten Langkat pada 1946 menyisakan cerita yang masih perlu ditelusuri lebih komprehensif.

Hal itu penting untuk melihat peristiwa yang berujung kepada pembakaran Istana Kesultanan Langkat di Tanjung Pura dan terbunuhnya kalangan bangsawan secara utuh.

Untuk menulis kembali peristiwa sejarah dan melakukan rekontruksi peristiwa sejarah itu, Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Sumatera Utara Prof. Wan Syaifuddin menegaskan pentingnya kritik sumber.

“Artinya memaknai peristiwa sejarah harus menggunakan kritik sumber,” kata Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Prof. Wan Syaifuddin dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar secara virtual oleh Pusat Studi Sejarah UISU, Selasa (30/6/2020)

Menurutnya kritik sumber maksudnya kegiatan pengujian secara kritis terhadap sumber-sumber sejarah untuk memperoleh otentisitas dan kredibilitas dalam rangka menyeleksi data sehingga diperoleh fakta.

Sebab, katanya untuk merekonstruksikan kembali sebuah peristiwa yang sudah pernah terjadi pasti banyak pendapat dengan perspektif masing-masing.

“Harus ada kritik sumber, selanjutnya teks yang ada bisa dibandingkan dengan keterangan lisan (oral) dari orang-orang yang melihat atau mengetahui peristiwa yang terjadi,”paparnya.

Dalam FGD yang membahas sejarah kejadian pada1946 di Kesultanan Langkat selain menghadirkan Prof Wan Syaifuddin juga pembicara lainnya yakni Sultan Langkat VIII DYM Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmatshah Al Hajj, Tokoh Melayu yang juga anggota DPR RI Prof. Johar Arifin Husin dan Kepala Pusat Studi Sejarah UISU Dr. Dahlena Sari Marbun.

Kegiatan dalam bentuk webinar itu awalnya menghadirkan Gubernur Sumut H. Edy Rahmayadi selaku keynote speaker namun akhirnya kata sambutan Gubsu dibacakan Sultan Langkat VIII DYM Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmatshah Al Hajj.

Webinar yang berlangsung menarik itu dilanjutkan dengan Sambutan Rektor UISU Dr. H. Yanhar Jamaluddin, MAP dan paparan narasumber serta dihadiri partisipan dari berbagai daerah dan profesi.

Mencuatnya persoalan kejadian tahun 1946 di Kesultanan Langkat itu karena banyak peristiwa yang tidak terungkap jelas ke publik hingga saat ini.

Penggunaan terminologi revolusi atau kerusuhan sosial untuk menggambarkan peristiwa tahun 1956 itu juga masih menjadi perdebatan dalam FGD.

Prof Wan menegaskan harus jelas metode dan paradigma yang digunakan untuk menuliskan kembali peristwa sejarah itu.

“Apakah revolusi atau kerusuhan, harus tegas dan jelas paradigmanya sehingga tidak melemahkan peristiwa yang sebenarnya. Karena kita gemar menghaluskan sebuah peristiwa dengan kata-kata. Misalnya ditangkap dibilang diamankan,” ucap Prof Wan .

Sementara itu, Prof. Johar yang juga anggota DPR Ri lebih banyak memaparkan sejarah dari berbagai sumber. Mulai dari pengumuman kemerdekaan di Istana langkat hingga andil dan keikusertaan Tengku Amir Hamzah dalam pembentukan pemerintahan RI di Jakarta dan Sumatera Timur.

Prof Johar memaparkan bagaimana perjuangan T. Amir Hamzah pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Studi Sejarah UISU Dr. Dahlena Sari Marbun mengatakan pihaknya saat ini memang sedang melakukan penelitian tentang peristiwa 1946 yang terjadi di Kesultanan langkat.

Misalnya apa yang sebenarnya terjadi hingga Istana Kesultanan langkat akhirnya dibakar selain itu apa sebenarnya yang dialami keluarga kesultanan Langkat?

Masih banyak informasi yang berbeda-beda. Dalam berbagai literatur, di FGD disebutkan adanya pembantaian terhadap keluarga dan keturunan Tengku Amir Hamzah pada saat itu.

Namun, informasi itu masih menjadi perdebatan bahkan mendapat bantahan dari keturunan Tengku Amir Hamzah yang mengikuti kegiatan webinar secara virtual.

Dr. Dahlena Sari Marbun berharap melalui FGD mendapatkan masukan terkait peristiwa tersebut.

Untuk melihat kejadian 1946 di Kesultanan Langkat secara utuh dengan sistematika, metodologi dan paradigma secara komprehehnsif. (rm-04)