Ekonomi Sumut Turun 4,75 Persen di Triwulan II- 2020

52732

Medan Irakyatmedan– Kepala Bidang (Kabid) Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Taulina Anggarani mengatakan, ekonomi Sumut triwulan II-2020 menurun sebesar 4,75 persen (qto-q) dibanding triwulan I-2020.

“Dari sisi produksi, penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada sebagian besar lapangan usaha,” kata Taulina, Rabu (5/8/2020).

Data BPS Sumut tercatat pertumbuhan ekonomi Sumut triwulan II-2020 dibanding triwulan II-2019 mengalami kontraksi sebesar 2,37 persen (y-on-y).

Sedangkan dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 5,42 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang tumbuh sebesar 1,54 persen.

Dari sisi produksi, penurunan disebabkan kontraksi yang terjadi pada sebagian besar lapangan usaha.

Sementara dari sisi pengeluaran, penurunan disebabkan oleh kontraksi pada seluruh komponen kecuali komponen pengeluaran konsumsi pemerintah.

Lebih lanjut dijelaskannya, pertumbuhan ekonomi Sumut Semester I-2020 dibanding semester I-2019 tumbuh 1,11 persen (c-toc).

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 7,65 persen.

Pada sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada komponen PMTB yang tumbuh sebesar 2,87 persen.

Menurutnya struktur ekonomi di Pulau Sumatera secara spasial pada triwulan II-2020 didominasi beberapa provinsi.

Di antaranya Provinsi Sumut yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Pulau Sumatera sebesar 24,35 persen, diikuti Riau sebesar 20,71 persen, Sumatera Selatan sebesar 13,99 persen, serta Lampung sebesar 11,03 persen.

Sementara itu, kontribusi terendah ditorehkan Bengkulu sebesar 2,21 persen dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 2,20 persen.

Taulina juga menyebutkan keterkaitan pertumbuhan ekononi yang terdampak Covid-19. Menurutnya produksi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan kehutanan melambat. Produksi peternakan dan perikanan menurun.

Pada pertambangan migas, bijih logam dan penggalian katanya juga mengalami penurunan. Industri makanan dan minuman melambat. Industri pengolahan tembakau, industri karet dan industri logam dasar menurun. Realisasi pengadaan semen mengalami penurunan.

Untuk realisasi belanja pegawai meningkat karena ada THR pada Mei 2020 bagi ASN/TNI/Polri.

Perdagangan mobil dan sepeda motor, perdagangan besar dan eceran menurun. Transportasi dan pergudangan mengalami penurunan tajam.

Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum mengalami penurunan tajam.

Informasi dan komunikasi mengalami perlambatan. Jasa keuangan mengalami penurunan. Jumlah wisatawan mancanegara bahkan menurun tajam.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga turun karena menurunnya pengeluaran pada semua sektor, terutama pada sektor transportasi, rekreasi dan budaya, serta penginapan dan hotel turun tajam.

Pengeluaran lembaga non-profit yang melayani rumah tangga turun terutama pada lembaga keagamaan dikarenakan adanya imbauan beribadah di rumah sesuai Fatwa MUI Pusat Nomor 14 Tahun 2020.

Menurutnya pengeluaran pemerintah meningkat karena besarnya belanja bantuan sosial untuk pandemi Covid-19.

Pertumbuhan ekspor dan impor turun karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah. ( rm-04)