Josua Sinurat, Anak Kost Peraih 6 Medali Emas di Arena PON

99473

Medan I rakyatmedan – Keindahan Bukit Labuhanbatu Utara menjadi lebih indah bagi pasangan M Sinurat dan Lidia boru Silaen dengan kelahiran bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Josua Sinurat, tepatnya, 7 Mei 1966.

Anak ke lima dari 7 bersaudara ini menekuni pendidikan mulai dari SD Negeri  112281 dan  SMP Negeri 1 di kota kelahirannya.

Usai menamatkan pendidikan di sekolah lanjutan tingkat pertama, dirinya ingin merantau ke kota Medan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Guru Olahraga (SGO).

Keinginan tersebut mendapat restu dari kedua orang tuanya karena keinginan Josua untuk merantau sambil menuntut ilmu.

Pada 1983, Josua menjadi siswa SGO di Teladan Medan dan kos di daerah tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, Drs Josua Sinurat, MM yang kini telah menjadi orangtua bagi dua anaknya ini sempat menimba ilmu cabang olahraga keras tinju dan berlatih di sasana tinju Tiger Boxing Camp di kawasan Mandala Medan bersama mantan petinju nasional Erwinsyah dan Garuda Tua Sihombing.

Pada masa itu, untuk latihan tinju, Josua dengan penuh semangat mengkayuh pedal sepeda dari Teladan menuju Mandala.

Namun beberapa bulan latihan tinju, dirinya melihat petinju yang sedang sparing partner bibirnya pecah kena pukulan.

Hal ini membuat Josua berpikir kalau kena pukulan terus menerus bisa mengakibatkan gigi jadi rontok.

Kegalauannya membayangkan gigi rontok berkecamuk dalam pikiran Josua, akhirnya menghentikan keinginannya melanjutkan latihan tinju.

Disaat sedang galau untuk memilih olahraga beladiri yang cocok buat dirinya untuk ditekuni, ketika itulah “malaikat” penolong datang yang tak lain gurunya di SGO, Mangamar Naibaho yang juga atlet pengulat menawarkan untuk ikut latihan gulat.

Tawaran tersebut diterimanya dengan tangan terbuka dan senang hati bagi anak perantauan ini. Dirinya semakin termotivasi untuk mengikuti latihan gulat.

Sementara itu keinginan untuk menjadi orang terkenal terus membakar dalam jiwa, sehingga dirinya terus membaca tentang perjalanan pengulat nasional maupun internasional yang meraih prestasi sebagai referensi.

Kepercayaan semakin tinggi saat dirinya dilatih pegulat nasional Asmara Dhana.

Memasuki usia 20 tahun, Josua dipercayakan untuk mengikuti Kejurnas Gulat Senior yang digelar di Gelanggang Remaja Medan pada 1986. Namun saat itu, Josua hanya mampu diperingkat ke-6 sehingga mendapat sorakan dan ejekan dari penonton.

Sorakan tersebut, tidak membuat kecil hatinya, tetapi semakin membuat termotivasi untuk memperbaiki diri.

Apalagi pada 1987 dipanggil untuk ikut seleknas persiapan Sea Games ke-14 di Jakarta dan meraih peringkat ke-4 di kelas bebas 74 kg.

Hasil seleknas yang diraih Josua, membuat dirinya dipercayakan untuk membela Sumut pada arena PON XII/1989 Jakarta.

Laga perdana di arena bergengsi para atlet itu tak disia-siakan Josua. Dirinya berhasil mendulang medali emas gaya bebas dan medali perunggu gaya grego.

Bukan hanya prestasi saja yang diraih bagi pria yang suka bercanda ini, hasil raihan tersebut membuat dirinya mendapat bea siswa selama 5 tahun di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).

Ambisinya untuk menjadi orang terkenal terus membara dalam tubuhnya, apalagi sang reporter yang ingin wawancara langsung diterima dengan tangan terbuka.

Selanjutnya, pada PON XIII/1993 kembali menjadi kontingen Sumut dalam cabor Gulat.

Gubsu pada saat itu dijabat Raja Inal Siregar menantang Josua, jika berhasil memboyong dua emas akanakan mendapatkan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Tantangan tersebut membuat darah Josua semakin mendidih untuk membuktikan dirinya sebagai yang terbaik.

Akhirnya, Josua berhasil masuk final di gaya bebas dan grego. Keinginan untuk menyumbang dua emas untuk kontingen Sumut dan sebagai pembuktian kepada Gubsu sempat goyah.

Pasalnya, salah satu daerah yang menjadi lawannya menawarkan segepok rupiah agar kalah dalam pertandingan.

Namun tawaran tersebut ditepis Josua karena dirinya tetap pada pendiriannya untuk membawa harum nama Sumut.

Di luar dugaan Josua saat berlaga di final dihadiri Gubsu Raja Inal Siregar untuk menyaksikan pertandingannya tersebut.

Melihat kehadiran Sumut 1 membuat Josua semakin garang untuk menaklukkan lawannya. Berkat kerja keras selama latihan akhirnya dapat memborong dua medali emas. Sesuai janji Gubsu, akhirnya Josua diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Sepak terjang penggulat yang mendapat julukan “Harimau Sumatera” ini terus menuaikan prestasi.

Kehebatan dalam arena gulat dibuktikan kembali di arena PON XIV/1996 Jakarta dengan memboyong dua medali emas dan pada PON XV/2000 Surabaya Jawa Timur berhasil membawa pulang 1 medali emas.

Selama menjadi penggulat, Josua tercatat sebagai atlet pelatnas yang telah merasakan aura pertandingan internasional dan try out antara lain, Vietnam, Filipina, Malaysia, Pakistan, Rumania (2 bulan) dan Korea Selatan (1 bulan).

Dalam kehidupan asmaranya, Josua mempersunting drg Devi Simorangkir sebagai pendamping hidup yang kini dkaruniakan sepasang anak.
Bertambahnya usai perlahan dia mulai pensiun dari gulat.

Keberhasilan Josua di bidang olahraga beladiri berbanding lurus dalam meniti karir. Itu ditandai dengan keberhasilannya di bidang pendidikan di pasca sarjana UISU dengan meraih gelar Magister Manajemen (MM).
Sehingga saat ini mengantarkan Josua menjabat sebagai Kepala Bidang Prestasi Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara.

“Banyak suka dan dukanya selama menggeluti olahraga gulat. Namun duka tersebut menjadi suka karena merasa bahagia berhasil menjadi yang terbaik. Semua saya jalani untuk mengharumkan nama Sumut,” ujar legenda pegulat Sumut ini, di Medan, Selasa (18/8/2020)

Menurutnya cidera sudah pernah dirasakan, apalagi letih dan lelah dalam melakukan latihan dilewatinya setiap hari.

Kepada pegulat-pegulat muda dan berhasil meraih prestasi atau kejuaraan, Josua meminta agar tidak lekas berpuas diri.

Menurut Drs Josua Sinurat, MM latihan dan terus latihan adalah modal untuk meraih prestasi di masa yang akan datang.

“Tetap semangat berlatih, yakinlah bahwa apa yang lakukan saat ini, adalah modal berharga bagi masa depan,” ujarnya memotivasi para pegulat Sumut.

Pada PON XXI-2025 Sumut-Aceh katanya tentu merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan untuk unjuk prestasi. (rm-04)